
TANGSEL – Tumpukan sampah di bawah fly over Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), menjadi sorotan publik karena tak terangkut selama hampir sepekan. Sampah tersebut dibiarkan menumpuk dari Jalan Dewi Sartika hingga depan Masjid Agung Ciputat.
Pantauan di lapangan, terlihat sampah hanya ditutup terpal dan disemprot cairan pengurang bau. Upaya itu dinilai belum menyelesaikan persoalan.
Sementata itu, di permukiman sekitar kolong fly over Ciputat, warga kebingungan lantaran lokasi pembuangan sementara belum jelas, sementara sampah di rumah terus menumpuk.
Wawan (39), warga sekitar kolong flyover Ciputat, mengatakan pengurus lingkungan telah mengimbau warga untuk menahan pembuangan sampah sementara waktu.
“RT (rukun tetangga-red) mengumumkan agar warga tidak terlalu banyak belanja supaya sampah tidak menumpuk. Katanya, kondisi akan segera normal, jadi sementara sampah ditahan di rumah masing-masing,” kata Wawan kepada BantenNews.co.id, Senin (15/12/2025).
Namun, kebijakan tersebut menuai keluhan. Menurut Wawan, penumpukan sampah di rumah warga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.
“Sudah hampir seminggu. Warga keberatan karena sampah di rumah bisa menyebabkan penyakit dan menyebarkan bakteri,” ujarnya.
Sekitar 26 warga, kata Dia, sempat mendatangi Kantor Kelurahan Cipayung untuk meminta solusi. Namun, pihak kelurahan justru mengajak warga melakukan kerja bakti dengan menutup sampah sementara menggunakan terpal.
Senada, Sunaryo (44), warga lainnya, menyebut pihak kecamatan telah mengirimkan alat berat untuk mengangkut sampah, meski jumlahnya terbatas.
“Alat berat dikirim dari kecamatan, tapi pengangkutannya sedikit-sedikit. Untuk sementara, sampah dikumpulkan di satu titik,” kata Sunaryo.
Menurut dia, warga Kelurahan Ciputat diarahkan membuang sampah ke area Pasar Ciputat menuju Kedaung. Adapun warga Kelurahan Cipayung diminta membuang sampah di depan lokasi pool taksi atau di depan SPBU cipayung.
Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). mengultimatum Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel untuk segera membenahi tata kelola sampah.
Teguran itu diberikan menyusul longsornya gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Serpong, yang mencemari lingkungan sekitar. Pemerintah Kota Tangsel diberi tenggat hingga akhir Desember 2025 untuk menata TPA tersebut.
Kemarahan warga juga sempat memuncak. Puluhan warga Kampung Curug, Serpong, menggeruduk kantor UPTD TPA Cipeucang, Senin (8/12/2025) pekan lalu dengan membentangkan spanduk bertuliskan “Tutup TPA Cipeucang”.
Adapun tuntutan warga yang dimaksud terdapat enam butir, yakni TPA Cipeucang per 8 Desember 2025, normalisasi aliran kali seperti kondisi awal, perapihan sampah di sekitar rumah warga, keberadaan alat berat yang siaga untuk mengerjakan perapihan saluran air dan lingkungan, penanganan lindi dan bau sampah, serta kejelasan terkait dampak kesehatan dan kompensasi bagi warga terdampak.
Kabar terbaru, Pemkot Tangsel menutup tumpukan sampah dengan terpal dan melakukan penyemprotan rutin untuk menekan bau di beberapa titik, termasuk di kawasan fly over Ciputat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel, Bani Khosyatullah, menyebut langkah itu bersifat sementara sambil memastikan pengangkutan sampah berjalan optimal.
“Penutupan dengan terpal dan penyemprotan kami lakukan untuk menekan bau, khususnya bagi warga sekitar. Ini bagian dari penanganan cepat agar aktivitas masyarakat tidak terganggu,” ujar Bani, Minggu (14/12/2025) kemarin
Bani menjelaskan, penyemprotan dilakukan menggunakan cairan ramah lingkungan. Petugas juga disiagakan untuk memantau kondisi di lapangan secara berkala.
Selain penanganan darurat, Pemkot Tangsel mengklaim tengah melakukan sejumlah pembenahan di TPA Cipeucang.
Langkah tersebut meliputi penataan Landfill 3 dengan metode terasering di anak Sungai Cirompang untuk mencegah longsor, pembangunan beronjong, pembukaan akses menuju Landfill 4, serta pembebasan lahan untuk pengembangan Material Recovery Facility (MRF).
Penulis : Ahmad Rizki
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd