Beranda Pendidikan Lagi, Soal LKS SD di Serang Dinilai Serampangan

Lagi, Soal LKS SD di Serang Dinilai Serampangan

2027
0
Soal kontroversial ditemukan pada Lembar Kerja Siswa (LKS) di salah satu Sekolah Dasar di Kota Serang

SERANG – Dunia pendidikan di Kota Serang kembali menjadi perbincangan publik. Setelah sebelumnya dihebohkan dengan soal yang dianggap kontroversial mengangkat sosok youtuber Atta Halilintar dalam soal ujian kenaikan kelas 5 SD mata pelajaran Bahasa Indonesia, kini soal di jenjang yang sama membuat wali murid merasa prihatin dengan penyusunan soal yang terlampau serampangan.

Soal kontroversial itu ditemukan pada Lembar Kerja Siswa (LKS) di salah satu Sekolah Dasar di Kota Serang, Banten. Dalam soal berbentuk pilihan ganda tersebut mengemukakan pertanyaan, “Suku bangsa Badui merupakan suku asli yang terdapat di daerah…” Dalam pilihan ganda menyebutkan empat pilihan, “a. Jawa Barat, b. Bali, c. Lampung, d. Sulawesi Tenggara.”

Soal tersebut dinilai keliru karena menyebut “Badui”. “Bahkan di LKS di sebuah SD di Serang Banten, pertanyaan di mana suku Badui itu terpaksa harus dijawab: Jawa Barat, meski seharusnya Arab,” kata salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya.

Padahal, lanjut dia, pada jilid LKS mencantumkan soal-soal di dalamnya sudah mengacu pada Kurikulum 2013 dan Higher Order Thinking Skills (HOTS) alias soal dengan skill berpikir tingkat tinggi. “Sumber yang asal disebabkan sekolah dan guru yang asal, bukan sekadar salah penulis dan editor buku. Ayolah, biasakan punya malu pada anak-anak didik kita kalau kita kasih bahan yang asal,” katanya.

Mengamati LKS tersebut, penerbit tidak mencantumkan alamat dalam LKS. Dalam LKS tersebut hanya menyebutkan CV Pustaka Bengawan. Setelah ditelusuri melalui laman daring, perusahan yang dimaksud beralamat di JL Pisang Raja, No. 19 Rt. 05 Rw. 01, Grogol, Bangunsari, Gayam, Kec. Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah 57514. Telpon dengan nomor 0271 62xxxx tidak merespon panggilan wartawan.

Pemerhati Pendidikan dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Arip Senjaya menilai belum berfungsinya lembaga dan komunitas guru dalam menyaring materi pendidikan yang akurat dan berkualitas. Padahal, dari lembaga dan komunitas guru mata pelajaran semisal Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) soal-soal ngawur tersebut seharusnya tidak lolos hingga tingkat siswa.

“Guru menjadi filter bagaimana materi yang akurat dan berkualitas sampai kepada siswa. Dengan begitu pendidikan sebagai sarana pencerahan akan dirasakan oleh siswa. Kalau seperti itu (salah soal) justru siswa akan kebingungan, lebih fatal akan salah dalam memahami sesuatu,” ujarnya.

Lebih lanjut, Arip mengkritisi dunia pendidikan yang selalu mengusung pendidikan karakter. Wacana pendidikan karakter, menurutnya, jauh panggang dari api jika soal mengenai lokalitas saja salah. “Akan berbeda halnya jika soal yang bersifat lokalitas disusun oleh guru yang mengenal betul lingkungan tempatnya hidup. Lucunya, (banyak LKS) soal mengenai Banten disusun oleh penerbit dari Jawa Tengah. Apakah di Banten tidak ada guru-guru yang mampu menyusun soal seperti itu,” tuturnya.

Hingga berita ini diturunkan, wartawan masih mencoba menghubungi pihak terkait. (You/Red)