PANDEGLANG – Musim kemarau mulai memukul sektor pertanian di Kabupaten Pandeglang. Ratusan hektare sawah kini menghadapi ancaman gagal panen akibat kekurangan air.
Sebagian petani memilih menghentikan masa tanam karena tidak sanggup menanggung biaya pengairan.
Petani asal Kecamatan Patia, Ebi mengatakan, kondisi sawahnya terus memburuk sejak kemarau berlangsung. Hanya lahan yang berada di sekitar aliran Sungai Cilemer yang masih memiliki peluang bertahan.
Sementara sawah yang jauh dari sungai mulai mengering hingga tanahnya retak-retak.
“Kalau dekat aliran Sungai Cilemer masih ada yang bisa panen. Kalau jauh dari sungai hampir pasti gagal karena tanahnya sudah retak. Tanaman sudah berumur sekitar satu bulan,” kata Ebi, Sabtu (1/8/2026).
Ebi mengaku, masih menggarap sawah miliknya yang berjarak sekitar 100 meter dari sungai. Namun, ia membiarkan sawah lain yang berada jauh dari sumber air karena biaya operasional pompa terlalu mahal.
“Kalau memaksakan tanam, biaya BBM untuk pompa air sangat besar. Ada petani yang memakai tabung gas LPG untuk menggerakkan pompa, tapi itu bisa merusak mesin,” ujarnya.
Masalah petani tidak berhenti pada ketersediaan air. Mereka juga harus menunggu kondisi Sungai Cilemer berubah menjadi payau.
Saat air laut masuk ke sungai, kadar garam meningkat dan justru membahayakan tanaman padi.
“Sekarang air sungainya masih asin. Kemarin ada yang memaksa mengairi sawah memakai air itu, akhirnya dua petak sawah mati,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Pandeglang, Nuridawati, menyebut sedikitnya 515 hektare sawah berada dalam kondisi rawan gagal panen akibat kemarau.
Menurutnya, Kecamatan Sindangresmi menjadi wilayah dengan ancaman terluas, yakni sekitar 200 hektare.
“Umur tanaman rata-rata dua bulan. Kalau turun hujan tanaman kembali segar, tetapi saat hujan berhenti tanaman kembali layu. Sampai sekarang belum ada laporan puso,” katanya.
DPKP meminta petani segera melaporkan kondisi sawah yang mengalami kekeringan kepada petugas pertanian di lapangan agar pemerintah dapat memantau perkembangan dan menyiapkan langkah penanganan.
“Kalau gagal panen terjadi, produksi gabah di Pandeglang tentu akan ikut menurun,” ujarnya.
Penulis : Memed
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
