Beranda Bisnis Kreatif! Ibu di Pandeglang Ini Manfaatkan Limbah Habel Jadi Pot Bunga

Kreatif! Ibu di Pandeglang Ini Manfaatkan Limbah Habel Jadi Pot Bunga

Tuti menunjukkan hasil kerajinan pot dari limbah Habel.

PANDEGLANG – Seorang ibu rumah tangga asal Kampung Kadutanggay, Desa Purwaraja, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Tuti Ratu Lanes memanfaatkan limbah habel menjadi pot yang bernilai ekonomis tinggi.

Habel sisa yang biasanya dibuang pekerja bangunan oleh ibu rumah tangga ini disulap jadi barang kerajinan cantik dan menghasilkan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Tuti mengaku ide membuat pot dari habel sisa muncul begitu saja saat dirinya sedang mencari tanaman untuk dibuat bonsai. Saat di kebun, Tuti melihat sisa habel di sekitar perumahan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya berserakan begitu saja.

Tanpa pikir panjang, Tuti langsung membawa tumpukan habel itu ke rumahnya dan menemukan ide untuk membuat pot berbahan dasar Habel tadi.

“Awalnya iseng-iseng. Memang kita hobi membonsai. Awalnya kita lagi nyari akar yang bisa dibonsai terus kami menemukan limbah habel yang tidak terpakai dan dibuang terus kami bawa pulang untuk dibuat pot bonsainya,” kata Tuti memulai ceritanya, Sabtu (26/3/2022).

Tuti mengaku kerajinan membuat pot ini sudah ia tekuni sekitar 2 tahun lalu dan peminatnya juga cukup lumayan banyak. Sedangkan untuk pemasarannya, ibu 3 anak ini mengaku hanya melalui media sosial dan orang-orang dekat saja.

“Kalau untuk habel kami sudah berjalan sejak pandemi Covid-19 atau hampir 2 tahun. Ternyata alhamdulilah banyak orang yang tertarik dengan pot dari limbah ini. Alhamdulilah di masa pandemi ini masih ada ide yang bisa kami lakukan untuk menghidupi keluarga,” katanya.

Untuk proses pembuatannya pun terbilang cukup mudah, pertama limbah habel disiram air kemudian dibuat pola dan langsung diukir, setelah terbentuk pola baru kemudian dilapisi oleh semen dan dijemur hingga kering.

“Kalau untuk proses pembuatan ini hanya diukir saja jadi kebutuhan peralatannya juga cukup mudah cuman kikir, pisau gergaji, amplas buat menghaluskan,” terangnya.

Sedangkan untuk harga, Tuti mematok hasil kerajinannya itu mulai dari angka Rp25 ribu hingga Rp100 ribu tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya. “Harga jual dari Rp25 ribu sampai Rp100 ribu tergantung ukurannya, jadi ada tingkat kesulitan pembuatannya,” bebernya.

Dirinya berharap hasil karya seninya ini mampu menginspirasi warga lain untuk memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak terpakai menjadi barang yang bernilai ekonomis.

“Saya inginnya masyarakat yang lain termotivasi untuk memanfaatkan limbah karena bisa dijual dan menghasilkan uang tambahan,” harapnya.

(Med/Red)