KAB. TANGERANG – Korban banjir di Perumahan Taman Cikande, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, mendesak pemerintah membangun tanggul di Sungai Cidurian sebagai solusi jangka panjang penanganan banjir.
Desakan tersebut disampaikan warga setelah kawasan permukiman mereka kembali terendam banjir akibat meluapnya Sungai Cidurian, yang hampir setiap tahun terjadi. Sungai tersebut berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau–Ciujung–Cidurian (BBWSC3) Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
“Itu (tanggul) memang sangat dibutuhkan. Mudah-mudahan dari instansi pemerintah, dari camat, bupati, gubernur, sampai presiden supaya bisa membangun tanggul,” kata Ketua RW 03 Perumahan Taman Cikande, Victor Silaen, Kamis (15/1/2026).
Diketahui, banjir di perumahan tersebut telah berlangsung selama empat hari sejak Senin (12/1/2026) dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda surut. Sebanyak 222 kepala keluarga dari dua RW dan lima RT terdampak, dengan ketinggian air mencapai hingga dua meter.
Victor menjelaskan, Perumahan Taman Cikande telah menjadi langganan banjir tahunan. Banjir terparah tercatat terjadi pada 2001 lalu, ketika seluruh kawasan perumahan terendam.
Akibat bencana yang berulang, sebagian warga yang tinggal di blok paling bawah memilih pindah dan meninggalkan rumahnya dalam kondisi kosong.
“Sempat dihuni, tapi karena banjir seperti ini terjadi terus, lama-lama orang memilih keluar. Akhirnya pada pindah, tinggal sisa 17 KK. Kalau yang di atas masih bertahan karena tidak separah yang di bawah,” ujarnya.
Ia menilai, pembangunan tanggul merupakan solusi paling realistis untuk mencegah banjir kembali terjadi, mengingat lokasi perumahan yang berada tidak jauh dari Sungai Cidurian.
“Mudah-mudahan pemerintah bisa mendengar harapan kami agar dibangunkan tanggul,” kata Victor.
Menurutnya, tanggul berfungsi menahan limpasan air dari Sungai Cidurian yang berhulu di kawasan pegunungan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jawa Barat. Ia mengungkapkan, warga sebenarnya telah lama mengusulkan pembangunan tanggul kepada pemerintah, namun hingga kini belum ada realisasi.
“Dulu sudah pernah kami usulkan, tapi sampai sekarang belum ada,” tandasnya.
Penulis: Saepulloh
Editor: Usman Temposo
