Beranda Hukum Korban Banjir Bandang Lebak Melahirkan di Pengungsian

Korban Banjir Bandang Lebak Melahirkan di Pengungsian

152
0
Warga korban banjir bandang di Lebak melihat puing sisa rumah dan sekolah yang rusak diterjang banjir sambil membawa bantuan makanan dari posko terdekat. (Wahyu/bantennews)

LEBAK – Siti Nuriyah (22) melahirkan anak keduanya di lokasi pengungsian. Siti merupakan korban banjir bandang dan tanah longsor di Desa Cigobang, Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Banten, pada 1 Januari 2020 lalu.

Kisah berawal saat Siti mengeluhkan rasa mulas dan kontraksi di kehamilannya. Kemudian sang suami menghubungi Pokja Relawan Banten yang sudah 48 hari berada di lokasi bencana untuk meminta bantuan melahirkan istrinya.

Lantaran menuju lokasi yang sulit dan cukup jauh, bayi yang kemudian diberi nama Wulan itu melahirkan di pengungsian dengan bantuan taraji atau dukun beranak di kampung.

“Sebelumnya tim medis Pokja Relawan Banten, sudah menawarkan pada Kang Wahyudin untuk membawa istrinya ke tempat yang lebih layak, tapi ada sedikit miskomunikasi, sehingga ya seperti ini jadinya, terpaksa melahirkan anak keduanya di pengungsian,” kata Anggota Pokja Relawan Banten, Eggi Ramadhan (38), saat dikonfirmasi melalui pesan singkatnya, Selasa (18/2/2020).

Kini, Siti dan Wulan dikabarkan dalam kondisi sehat dan stabil. Siti dan Wahyudin bersama kedua anaknya masih tinggal di Huntara, meski telah melahirkan.

Eggi menceritakan Siti dan Wulan membutuhkan susu, pakaian, dan makanan tambahan untuk ibu baru melahirkan. Lantaran di lokasi pengungsian, segala sesuatunya masih terbatas. Pokja Relawan Banten mengharapkan pemerintah dan para donatur untuk membantu Siti dan Wulan.

“Lahir ditolong Paraji, karena Tim medis dari Dinkes Kabupaten Lebak kan enggak standby sampai malam. Ibu bayi membutuhkan susu atau nutrisi untuk kebutuhan ibu melahirkan dan peralatan bayi,” jelasnya. (You/Red)