Beranda Pemerintahan Konsep Pengelolaan Kawasan Kesultanan Banten Tak Singgung Soal Cagar Budaya

Konsep Pengelolaan Kawasan Kesultanan Banten Tak Singgung Soal Cagar Budaya

633
0
Kawasan Wisata Religi Banten Lama

SERANG – Gubernur Banten Wahidin Halim memerimtahkan jajarannya untuk mengembangkan konsep revitalisasi Kawasan Kesultanan Banten.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pariwisata akan mengintegrasikan Kawasan Kesultanan Banten (KKB) atau biasa disebut Banten Lama dengan kawasan lain di sekitarnya. Hal itu dilakukan agar masa tinggal pengunjung KKB lebih lama.

Sayangnya, tak sedikitpun konsep pemanfaatan cagar budaya disebutkan dalam revitalisasi zona inti cagar budaya tersebut.

Kepala Bidang Destinasi Pariwisata pada Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Paundra Bayyu Ajie mengatakan, Dinas Pariwisata sudah menyampaikan konsep pengembangan pariwisata sekitar KKB.

“Konsep penataan harus berangkat dari karakteristik Kawasan Kesultanan Banten. Kita ketahui bersama karakteristik wisata di Kawasan Kesultanan Banten lebih banyak menonjolkan soal wisata religi. Artinya, tujuan utama pengunjung datang ke Kawasan Kesultanan Banten adalah untuk ibadah dan ziarah,” ujar Bayyu.

Konsep yang ditawarkan Dinas Pariwisata Provinsi Banten yang dibuat dalam bentuk rencana detail kawasan, kata Bayyu, yaitu dengan menyediakan atau membuat paket wisata di sekitar Kawasan Kesultanan Banten, sehingga pengunjung bisa lebih lama tinggal di Kawasan Kesultanan Banten.

Beberapa konsep yang ditawarkan adalah perlu dibuat sebuah kawasan yang menjual berbagai kuliner khas Banten atau pasar kuliner.

“Tarif yang ditawarkan penyedia kuliner harus disesuaikan dengan pasar dan daya beli pengunjung. Jangan lupa juga soal penataan pasar kuliner,” ujar Bayyu.

Selain itu, menata kawasan tanaman mangrove di seberang Pelabuhan Ikan Karangantu. Meskipun lahan di kawasan tersebut berlumpur, tetapi tetap bisa dimanfaatkan untuk sarana wisata, dengan menyediakanjogging track yang terbuat dari papan kayu.

Di kawasan tersebut akan disiapkan tempat ibadah dan tempat istirahat. “Lahan itu milik TNI Angkatan Laut. Pemprov sejuah ini sudah mengajukan permohonan pengunaan lahan kepada pihak TNI Angkatan Laut,” ucapnya.

Konsep lainnya, optimalisasi wisata pulau. Seperti diketahui, di sekitar Pelabuhan Karangantu terdapat beberapa pulau yang dapat ditempuh dengan menggunakan perahu. Hanya, sejauh ini perahu-perahu tersebut tidak memiliki pelabuhan khusus, sehingga harus bergabung dengan pelabuhan ikan.

Pengelola KKB ke depan, kata Bayyu juga perlu menyiapkan kendaraan khusus di Kawasan Kesultanan Banten. Melalui kendaraan itu, pengunjung Kawasan Kesultanan Banten bisa berkeliling ke berbagai kawasan, seperti Keraton Kaibon, Masjid Pecinan, Benteng Speilwijk, dan kawasan wisata pantai di sekitar Pelabuhan Karangantu. Tentu dengan tarif yang terjangkau.

“Langkah lainnya, pengelola menyediakanhomestay bagi para pengunjung KKB. Konsep homestay yang perlu dikembangkan adalah tidak menambah bangunan baru, melainkan memanfaatkan perumahan warga yang masih ditinggali pemiliknya. Para pemilik rumah cukup menyediakan salah satu kamar untuk disewakan kepada pengunjung. Pemilik rumah juga tidak perlu menambah berbagai fasilitas, sehingga menyebabkan biaya tinggi,” ungkap Bayyu.

Sebelumnya, tim Nalai Pelestarian dan Cagar Budaya (BPCB) Banten melakukan penggalian reruntuhan bangunan Keraton Surosowan di tempat yang mengandung benda purbakala (ekskavasi). Di lokasi yang sama juga ditemukan sejumlah  pecahan keramik dari berbagai dinasti dan pecahan gerabah.

Ekskavasi dilakukan di sebelah utara reruntuhan Keraton Surosowan, Kesultanan Banten, di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten.

“Saat ini kita temukan struktur dari bata dan karang, kemudian ada temuan lepasnya berupa keramik asing dan ada juga pecahan gerabah,” kata Riko Fajrian, arekolog BPCB Banten, yang ditemui di lokasi eskavasi, Senin (22/07/2019) lalu. (You/Ink/Red)