Beranda Komunitas #Komentar Luncurkan Buku Angkatan ke-4

#Komentar Luncurkan Buku Angkatan ke-4

97
0
Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar) kembali sukses menggelar peluncuran dan diskusi buku "Suara Tokek, Kandang Ayam, dan Hasrat Cinta yang Berlemak", Minggu (12/5/2019 )

SERANG – Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar) kembali sukses menggelar peluncuran dan diskusi buku “Suara Tokek, Kandang Ayam, dan Hasrat Cinta yang Berlemak”, Minggu (12/5/2019 ). Buku yang dibedah di Sekretariat #Komentar, di Kampung Pasar Sore, RT 04, RW 01, Desa Singarajan, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang ini merupakan buah karya anggota Komentar angkatan #4.

Beberapa penulis yang ada dalam buku adalah Ahmad Falih (guru), Natasya Adinda (siswa), Dalpah (siswa), Hanilah (siswa), Encep Rahmatullah (karyawan), dan Ma’rifat Bayhaqi (mahasiswa).

“Diskusi buku di #Komentar adalah salah satu agenda utama komunitas. Terutama diskusi dan bedah buku karya anggota komunitas. Ini sebagai bentuk penghargaan kepada teman-teman,” ujar Encep Abdullah selaku pendiri #Komentar.

Menurut pembicara, Wahyu Rusnanto, dalam ulasannya menyebut bahwa anggota #Komentar seperti Avangers. Mereka memproses diri untuk menjadi superhero hebat dan kuat. Superhero yang dimaksud itu adalah penulis.

“Bakat menulis itu penting. Namun jadi tidak berguna apabila enggan untuk mengasah kemampuan. Oleh sebab itu, menulis bukan dikategorikan sebagai kemampuan, melainkan keterampilan. Buku Komentar #4 adalah bentuk keterampilan itu sendiri,” ujar mantan Ketua Umum Bengkel Menulis dan Sastra Untirta itu.

Buku “Suara Tokek …” ini merupakan gado-gado karena berisi kumpulan puisi, cerpen, dan esai. Menurut Wahyu, harusnya buku ini diterbitkan dalam satu genre agar tidak berloncatan dan agar konsisten.

Peserta yang hadir pada acara tersebut ada 20 orang. Sebagian penulis buku, sebagian alumni #Komentar, sebagian mahasiswa, dan masyarakat umum. Para peserta pun satu per satu bertanya dan semakin membuat diskusi semakin hidup.

Naimin, sang pemandu diskusi pun menyimpulkan dan menegaskan kembali pernyataan pembicara bahwa menulis itu seperti golok. Harus diasah. Kalau tidak diasah akan tumpul.

Acara yang dimulai sejak pukul 16.30 itu pun ditutup dengan buka puasa bersama. (Red)