
TANGERANG – Di tengah hiruk-pikuk Pasar Bandeng, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, aroma masakan rumahan menyeruak dari sebuah lapak sederhana. Di sanalah Yanti Cherry (55) setia menata aneka lauk pauk tradisional yang selalu menggugah selera para pengunjung pasar.
Sejak tiga tahun terakhir, Yanti menggantungkan hidup dari keterampilan memasak yang ia tekuni sejak muda. Berbekal resep rumahan dan ketekunan, ia mampu meraup omzet ratusan ribu rupiah setiap hari. Menu yang disajikannya pun beragam, mulai dari buntil daun singkong dan daun pepaya, opor ayam, pepes ikan kembung, botok, pepes tahu, gudeg, soto, pesmol, hingga nasi bakar yang menjadi favorit pelanggan.
“Harganya saya bikin terjangkau, dari Rp5 ribu sampai Rp15 ribu. Biar semua bisa beli,” ujar Yanti sambil cekatan melayani pembeli.
Menurutnya, menu Rp5 ribu seperti buntil dan tahu selalu cepat habis. Sementara nasi bakar paling ramai diburu untuk sarapan.
Di balik kelezatan masakan yang tersaji hangat setiap pagi, tersimpan rutinitas panjang yang dijalani Yanti tanpa banyak orang tahu. Setiap hari, ia bangun pukul 02.00 WIB untuk menyiapkan bahan dan mulai memasak. Saat matahari belum terbit, dagangannya sudah siap dibawa ke Pasar Bandeng.
“Capek pasti ada, tapi sudah biasa. Kalau dagangan habis rasanya senang banget. Alhamdulillah bisa buat kebutuhan sehari-hari,” tuturnya dengan senyum sederhana.
Dari hasil berjualan, Yanti mengaku bisa mengantongi omzet sekitar Rp200 ribu hingga Rp600 ribu per hari, tergantung ramainya pembeli. Meski tak selalu stabil, ia bersyukur masakan rumahan masih diminati, terutama oleh para ibu rumah tangga dan pekerja yang ingin sarapan praktis.
Lapak Yanti kini menjadi salah satu spot kuliner sederhana yang kerap disambangi pelanggan setia. Banyak yang mengaku rindu cita rasa masakan rumahan yang sulit ditemukan di tengah maraknya makanan instan dan modern.
Keberadaan Yanti di Pasar Bandeng menjadi potret nyata perjuangan pelaku usaha kecil. Dengan modal dapur, resep turun-temurun, dan kerja keras sejak dini hari, ia mampu bertahan dan mandiri di tengah persaingan zaman.
Di antara riuh suara tawar-menawar pasar, lapak kecil Yanti terus mengepul hangat—menyajikan bukan hanya lauk pauk, tetapi juga cerita tentang ketekunan, harapan, dan rezeki halal yang diperjuangkan setiap hari.
Tim Redaksi