Beranda Peristiwa Kisah Pilu Warga Lebak di Tengah Banjir Bandang Aceh

Kisah Pilu Warga Lebak di Tengah Banjir Bandang Aceh

Warga Lebak yang selamat dari banjir bandang Aceh saat kembali ke kediamannya di Kampung Lebak Saninten, Kecamatan Rangkasbitung.

LEBAK – Hujan baru saja berhenti ketika Noni Fauziah melangkah masuk ke halaman rumahnya di Kampung Lebak Saninten, Kelurahan Muara Ciujung Barat, Rangkasbitung. Wajahnya masih terlihat letih, namun sorot matanya menyiratkan rasa syukur yang dalam. Bersama tiga rekannya, Yati Suryati, Rinda Rianti, dan Abdul Kholik, ia akhirnya pulang setelah satu minggu terjebak banjir bandang di Aceh Tamiang.

Di antara tumpukan barang-barang basah yang mereka bawa pulang, tersimpan kisah tentang ketakutan, harapan, dan perjuangan untuk bertahan hidup.

“Kami semua hidup dalam ketidakpastian,” ujar Noni pelan, mengingat kembali bagaimana air bah datang dengan cepat dan memaksa ratusan warga berlarian menyelamatkan diri. “Kami naik ke lantai dua masjid. Di sana ada 421 orang lainnya—semua berharap bantuan segera datang.”

Hari pertama dan kedua mungkin masih bisa ditahan, tetapi memasuki hari ketiga, rasa lapar kian menyiksa. Tidak ada pasokan makanan. Hanya doa dan sisa tenaga yang membuat mereka tetap bertahan.

Ada seorang warga yang tak selamat. Jenazahnya sudah dikafani, tetapi tidak bisa dimakamkan. Air yang masih tinggi membuat keluarga tidak berdaya. Dengan berat hati, jenazah digantung di atas pohon sawit agar tidak terbawa arus.

“Itu pemandangan yang tidak akan pernah saya lupakan. Sedih, takut, dan putus asa bercampur menjadi satu. Kami benar-benar seperti hidup di tengah lautan,” tuturnya.

Namun di balik rasa takut itu, muncul keteguhan untuk tetap saling menguatkan. Setiap malam, warga yang terjebak berkumpul, berdoa, dan saling berbagi apa pun yang tersisa.

Ketika air mulai surut setinggi lutut setelah satu minggu, peluang kecil untuk menyelamatkan diri akhirnya muncul. Arus masih deras, tetapi warga menemukan titik lokasi yang memiliki akses jaringan satelit. Informasi itu menjadi harapan baru bagi Noni dan rekan-rekannya.

Baca Juga :  Cegah Tawuran Antar Pelajar, Polsek Bojong Gelar Sosialisasi ke Sekolah

“Rinda berjalan sekitar dua kilometer. Kami menitipkan harapan padanya agar bisa menghubungi keluarga,” kata Noni.

Ketika telepon itu akhirnya tersambung, suara keluarga dari Lebak seakan menjadi tali yang menarik mereka keluar dari keputusasaan. Mereka diarahkan menuju Kota Langsa dengan menumpang mobil pick-up yang bersedia memberikan tumpangan. Setibanya di Langsa, mereka bermalam di rumah seorang kenalan hingga akhirnya bisa menghubungi Pemkab Lebak.

Dan kemarin, perjalanan panjang itu berakhir. Mereka tiba di kampung halaman dengan tubuh yang lelah tetapi hati yang penuh syukur.

“Kami benar-benar masih diberi kesempatan untuk hidup,” ucap Noni, menutup kisahnya.

Di serambi rumah, keluarga dan tetangga berkumpul menyambut mereka. Tangis haru pecah, seakan membasuh segala ketegangan yang selama seminggu terakhir membelit pikiran. Bagi Noni dan rekan-rekannya, pengalaman ini bukan sekadar bencana—melainkan pengingat bahwa harapan dapat bertahan bahkan di tengah gelombang banjir yang paling gelap.

Penulis: Sandi Sudrajat
Editor: Usman Temposo