Beranda Sosial dan Budaya Kisah Bangunan Belanda di Cilenggang Kota Tangsel

Kisah Bangunan Belanda di Cilenggang Kota Tangsel

319
0
Suasana dua bangunan Belanda tahun 1891 di Cilenggang, Serpong. (Ihya/bantennews)

TANGSEL – Dua bangunan tua peninggalan Belanda yang terletak di Kampung PTPN, Kelurahan Cilenggang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menjadi saksi sejarah bangsa Indonesia.

Ditengah himpitan modernisasi gedung-gedung apartemen, bangunan yang berdiri sudah satu abad itu sampai saat ini masih berdiri kokoh meski tampak bagian atap sudah reot dan gentengnya pada berjatuhan.

Menurut penuturan sejarawan asal Kota Tangsel, Tb Sos Rendra, 2 bangunan rumah tersebut didirikan pada tahun 1824 sebagai tempat tinggalnya Ki Demang atau staf Pemerintah Daerah yang mengurus administrasi perkebunan tebu di wilayah tersebut.

“Jadi dulu itu wilayah ini semua perkebunan tebu untuk diolah jadi gula. Nah untuk mengangkut tebu itu sampai ke sini, di depan itu kan ada kali kecil, tadinya kali itu besar yang biasa digunakan untuk jalur pengiriman tebu. Jadi lewat kali,” kata Tb Sos di lokasi bangunan, Jumat (13/9/2019).

Seiring berjalannya waktu, setelah Indonesia merdeka tahun 1945, pasukan sekutu datang ke wilayah Serpong dan menempati bangunan itu. Tak hanya itu, tutur Tb Sos, kedatangan pasukan sekutu itu ternyata sekaligus memborbardir masyarakat sekitar.

“Waktu itu kan Jepang sudah kalah tidak punya kekuatan lagi, nah disitu pasukan sekutu berusaha merebut kembali perkebunan itu dari warga, tapi warga menolak, dan disitu lah warga pada dibunuhin,” jelasnya.

Setelah merdeka sepenuhnya, lahan ini, kata Tb Sos, diambil alih oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN), sehingga rumah yang bekas ditempati Ki Demang dan pasukan sekutu, waktu itu ditempati pegawai PTPN.

“Bangunan ini belum ada perbaikan sekali pun tapi masih berdiri kokoh seperti ini. Tapi kalau yang sebelah itu pernah ditempati pegawai PTPN, makannya ada bekas AC-nya,” tukas Tb.

Berbeda dengan yang diceritakan Tb Sos, pengurus 2 bangunan tersebut, Sulaiman malah menceritakan kisah horor dirinya selama membersihkan bangunan tua itu.

“Ya saya mah udah biasa sih mas nemun-nemu yang seperti itu di sini, namanya saya kan yang bersih-bersih di sini. Kalau saya sering lihat seperti ada noni-noni Belanda di pojokan itu, tapi ya wallahualam ya,” ungkap Sulaiman yang juga ketua RT.12, Cilenggang. (Ihy/Red)