Beranda Budaya KHO Ternaya, Pejuang PETA dan Bupati Serang yang Namanya Diabadikan Jadi Jalan...

KHO Ternaya, Pejuang PETA dan Bupati Serang yang Namanya Diabadikan Jadi Jalan di Kota Serang

Jalan KHO Ternaya. (Ist)

SERANG – Jalan KHO Ternaya merupakan ruas jalan di belakang gedung Setda Pemkab Serang, Kota Serang. Jalan ini menghubungkan Jalan Pangeran Diponegoro dengan Jalan Brigjen KH Syam’un. Lokasinya tepat berada di tengah kota, tak jauh dari Alun-alun Kota Serang

Nama KHO Ternaya itu merujuk kepada KH Entol Oyong Ternaya, tokoh Banten yang perjalanan hidupnya melintasi masa pendudukan Jepang, perjuangan mempertahankan kemerdekaan hingga pemerintahan awal Republik Indonesia.

Ia bukan hanya seorang tokoh yang pernah memegang jabatan pemerintahan. Jauh sebelum menjadi Bupati Serang, Oyong Ternaya merupakan bagian dari kelompok pemimpin militer pribumi yang dibentuk melalui Pembela Tanah Air (PETA).

PETA dibentuk pemerintah pendudukan Jepang pada 3 Oktober 1943. Organisasi ini dimaksudkan untuk membantu pertahanan Jepang menghadapi ancaman Sekutu.

Di Banten, PETA dibentuk dalam beberapa daidan atau batalion.

Buku Catatan Masa Lalu Banten karya Halwany Michrob dan A. Mudjahid Chudari mencatat bahwa salah satu batalion tersebut adalah Dai Ni Daidan, yang dipimpin Entol Oyong Ternaya dan berkedudukan di Kandangsapi, Malingping. Sementara daidan lainnya dipimpin tokoh seperti K.H. Ahmad Chatib, K.H. Syam’un, dan Uding Suriatmadja.

Kedudukan tersebut menunjukkan bahwa Oyong Ternaya bukan tokoh periferal dalam pembentukan kekuatan militer Banten pada masa pendudukan Jepang. Ia berada di jajaran pimpinan batalion PETA di wilayah Banten.

PETA dibubarkan setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945.

Namun, para perwira dan anggota PETA tidak serta-merta hilang dari panggung sejarah. Mereka justru menjadi bagian penting dari kekuatan bersenjata Republik yang sedang dibangun.

Nama Oyong Ternaya kembali muncul bersama sejumlah tokoh lain yang kemudian berada dalam struktur perjuangan bersenjata.

Sumber sejarah mengenai masa revolusi Banten mencatat bahwa ketika PETA dibubarkan pada 18 Agustus 1945, para komandan batalion PETA Banten dipanggil ke Bogor. Di antara mereka terdapat K.H. Achmad Chatib dari Labuan, Entol Ternaya dari Lebak, K.H. Djunaedi dari Pandeglang, serta perwakilan dari Cilegon.

Baca Juga :  Tujuh Keunikan Sungai Cibanten, Nadi Sejarah dan Alam Kota Serang

Situasi Banten setelah Proklamasi tidak sederhana.Di satu sisi, Republik Indonesia baru berdiri. Di sisi lain, senjata masih berada di tangan tentara Jepang dan berbagai kelompok bersenjata mulai muncul.

Pengalaman para mantan perwira PETA menjadi sangat penting dalam menghadapi situasi tersebut.

Bukan hanya tentara, tetapi juga pejabat pemerintahan Perjalanan Oyong Ternaya kemudian bergerak dari dunia militer ke pemerintahan.

Ia tercatat menjadi Bupati Serang.

Oyong Ternaya sebagai bupati setelah Padmadidjaja dan sebelum Adjenam. Masa jabatannya tercatat mulai 1950 hingga 17 Desember 1954, sementara sejumlah sumber lain membulatkannya sebagai periode 1950–1955.

 

 

Mengapa namanya menjadi Jalan K.H.O. Ternaya?

Kajian tentang toponimi jalan di Kota Serang memasukkan Jalan KHO Ternaya dalam kelompok nama jalan yang berasal dari tokoh lokal periode keresidenan hingga kemerdekaan. Dalam tabel penelitian tersebut, Oyong Ternaya disebut sebagai Bupati Serang 1950–1955.

Pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang mempunyai kontribusi dalam perjalanan pemerintahan Serang pada masa awal Republik.

Dokumen tata ruang Kota Serang juga mencantumkan Jalan KHO Ternaya dalam jaringan jalan kota. Sementara dokumen cagar budaya mencatat Jalan KHO Ternaya sebagai batas utara kawasan gedung pemerintahan lama Kabupaten Serang. Jalan KHO. Ternaya berada di sekitar kawasan pusat pemerintahan lama Serang.

Tim Redaksi