Beranda Berita Premiun Ketimpangan Pendidikan di Pelosok Kabupaten Serang

Ketimpangan Pendidikan di Pelosok Kabupaten Serang

Potret anak sekolah dasar negeri 1 Cikedung, Mancak, kabupaten Serang

KAB. SERANG — Saat mentari pagi baru saja menyingsing, suara langkah kecil terdengar beradu dengan tanah basah di ujung Desa Cikedung, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang. Sejumlah anak berseragam lusuh berjalan tertatih di jalan berlumpur yang sejak lama tak pernah merasakan aspal. Beberapa dari mereka bertelanjang kaki, sebagian lainnya beralas sandal yang mulai rusak.

Perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas harian bagi anak-anak Cikedung. Ia adalah medan perjuangan, melewati jalur sempit yang licin, menembus semak dan kubangan, apalagi di musim hujan seperti sekarang.

“Kami menyaksikan langsung bagaimana perjuangan mereka menuju sekolah,” kata Muhammad Fajar Berlian, Kamis (31/7/2025).

Fajar adalah anggota Bidang Advokasi dan Isu Strategis BEM Nusantara Banten periode 2025–2026 sekaligus Koordinator Departemen Luar Negeri BEM Sekolah Tinggi Analis Kimia Cilegon. Ia baru saja kembali dari kunjungan lapangan bersama rekan-rekannya ke desa itu.

Di balik derap langkah yang tertatih itu, tersimpan semangat anak-anak yang tak ingin kalah oleh keadaan. Namun, tantangan tak berhenti di ujung jalan. Setibanya di sekolah, mereka disambut bangunan tua dengan dinding yang mulai retak dan atap yang rawan bocor. Ruang kelas tak mencukupi, guru yang datang terbatas, dan jangan harap menemukan perpustakaan atau laboratorium.

“Ini bukan hanya soal infrastruktur atau anggaran,” ujar Fajar. “Tapi menyangkut keadilan sosial. Apakah anak-anak di desa tak berhak atas kualitas pendidikan yang sama dengan anak-anak di kota?”

Pertanyaan Fajar menggelitik nurani siapa pun yang mendengarnya. Sebab, tak jauh dari sana, sekolah-sekolah di kawasan perkotaan telah berlomba mengadopsi teknologi pembelajaran terbaru, dari smartboard hingga kelas daring terpadu. Sementara anak-anak di Cikedung masih harus mengandalkan papan tulis lusuh dan buku paket lama yang sudah koyak di sudut-sudutnya.

Baca Juga :  Masih Terjadi Pungli di Sektor Pendidikan, Komitmen WH-Andika Dipertanyakan

Fajar menganggap ketimpangan ini sebagai sinyal bahaya yang nyata bagi masa depan negeri. Jika desa terus-menerus menjadi wilayah tertinggal dalam peta pembangunan, maka cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi jargon yang menggantung di udara.

Senada dengan Fajar, Syafa’atul Amin, Sekretaris Bidang Sosial Budaya Politik BEM Nusantara sekaligus Ketua BEM Sekolah Tinggi Analis Kimia Cilegon, juga mengkritik keras pasifnya pemerintah daerah.

“Pendidikan adalah fondasi pembangunan bangsa. Jika akses pendidikan masih menjadi kemewahan di desa, maka semboyan ‘Serang Bahagia’ akan sulit terwujud,” ujarnya.

Bagi Syafa’atul, langkah konkret mestinya dimulai dari perbaikan jalan, distribusi guru yang merata, hingga pembangunan fasilitas pendidikan yang memadai. “Anak-anak Desa Cikedung juga punya hak untuk bermimpi dan berhasil. Negara tak boleh absen dari tanggung jawab itu,” katanya tegas.

Di tengah lantang seruan keadilan dan pemerataan itu, anak-anak di Cikedung tetap melangkah setiap pagi, menyusuri jalan yang sama, dengan harapan yang tak pernah padam. Sebab bagi mereka, pendidikan bukan sekadar tujuan, melainkan perjuangan untuk menembus batas.

Penulis: Rasyid
Editor: Usman Temposo