Beranda Peristiwa Ketika Ongkos Melonjak, Mudik Gratis Jadi Jalan Pulang Warga Banten

Ketika Ongkos Melonjak, Mudik Gratis Jadi Jalan Pulang Warga Banten

Gubernur Banten Andra Soni berbincang dengan peserta mudik gratis Pemprov Banten. (Istimewa)

Pemandangan di Alun-Alun Kota Serang, Rabu (17/3/2026), dipenuhi koper, tas besar, dan wajah-wajah yang menyimpan rindu.

Di antara deretan 22 bus yang siap berangkat, para pemudik tak sekadar menunggu perjalanan dimulai, mereka menunggu momen pulang yang akhirnya terasa mungkin.

Tatang Permana (53), warga Cikande, berdiri di samping anaknya sambil menggenggam tas sederhana. Tahun-tahun sebelumnya, ia selalu naik angkutan umum untuk pulang kampung. Namun Lebaran kali ini berbeda.

“Harga tiket sekarang lumayan tinggi. Biasanya kami tetap berangkat, tapi berat juga,” katanya.

Tahun ini, anaknya mendaftarkan mereka ke program mudik gratis Pemprov Banten. “Baru pertama kali ikut, dan sangat membantu,” ujarnya.

Di bus lain, Khoirunnisa (44) tampak sibuk mengatur posisi duduk dua anaknya. Ia dan suaminya yang bekerja sebagai buruh pabrik harus menghitung matang biaya mudik setiap tahun. Tujuan mereka jauh Padang, Sumatra Barat.

“Kalau naik umum, bisa Rp900 ribu per orang sekali jalan. Belum makan di jalan,” ucapnya.

Dengan empat orang anggota keluarga, angka itu jelas memberatkan. “Sekarang semuanya sudah difasilitasi. Jadi lebih tenang,” katanya.

Program mudik gratis yang memberangkatkan 990 peserta ini membuka jalan bagi banyak keluarga seperti Tatang dan Nisa. Bukan hanya soal transportasi, tapi juga soal kesempatan untuk tetap pulang tanpa dihantui biaya.

Beberapa peserta bahkan datang dari luar kota. Sejumlah mahasiswa asal Banten yang kuliah di Bandung dan Yogyakarta lebih dulu dijemput, lalu ikut dalam rombongan keberangkatan dari Serang. Perjalanan mereka jadi satu arah: pulang.

Di tengah antrean naik bus, percakapan kecil terdengar di mana-mana tentang kampung halaman, masakan ibu, hingga rencana Lebaran.

Ada yang membawa oleh-oleh, ada juga yang hanya membawa harapan sederhana: bisa berkumpul dengan keluarga.

Baca Juga :  Excavator Milik DPUPR Banten Terperosok ke Saluran Irigasi di Banten Lama, Dua Pekerja Luka

Mesin bus mulai menyala. Satu per satu kendaraan bergerak meninggalkan alun-alun. Di balik kaca, tangan-tangan melambai.

Perjalanan panjang dimulai, tapi setidaknya kali ini, beban di pundak terasa lebih ringan.

Bagi para pemudik ini, pulang bukan sekadar tradisi tahunan. Pulang adalah kebutuhan. Dan ketika ongkos jadi penghalang, kesempatan seperti ini menjadi jalan yang mereka tunggu.

Tim Redaksi