Beranda Berita Premiun Ketika Kota Sekaya Cilegon Masih Dihantui Kasus Bayi Gizi Buruk

Ketika Kota Sekaya Cilegon Masih Dihantui Kasus Bayi Gizi Buruk

Ilustrasi Visual Kreatif - (Dok. BantenNews.co.id)

CILEGON – Cilegon, kota yang dikenal sebagai pusat industri di Banten, kini menghadapi masalah serius yang tak kalah penting, yakni masalah gizi buruk pada bayi. Meskipun terjadi penurunan jumlah kasus, kenyataan bahwa masih ada puluhan bayi yang terpapar gizi buruk. Di tahun 2024 menunjukkan bahwa perjuangan untuk meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan masyarakat di kota ini masih jauh dari selesai.

Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cilegon dalam Kota Cilegon Dalam Angka 2025, jumlah bayi yang mengalami gizi buruk pada tahun 2024 tercatat sebanyak 98 orang, turun sedikit dari 111 bayi yang tercatat pada tahun 2023. Meskipun terlihat penurunan, angka ini tetap mencerminkan masalah yang lebih besar yang perlu segera ditangani oleh pemerintah dan masyarakat.

Di beberapa kecamatan, penurunan kasus gizi buruk memang tercatat, namun ada juga daerah yang justru menunjukkan peningkatan. Kecamatan Ciwandan, yang sempat mencatatkan 7 bayi dengan gizi buruk pada tahun 2023, berhasil menurunkan angka tersebut menjadi 5 bayi pada tahun 2024. Begitu juga dengan Kecamatan Citangkil, yang mengalami penurunan dari 32 bayi menjadi 27 bayi. Namun, tidak semua kecamatan mengalami perbaikan.

Sementara itu, Kecamatan Jombang menjadi salah satu yang mencatatkan lonjakan kasus gizi buruk yang signifikan. Pada tahun 2023, ada 11 bayi yang terdeteksi mengalami masalah gizi buruk, dan angka tersebut melonjak menjadi 21 bayi pada tahun 2024. Kecamatan Grogol juga mencatatkan peningkatan dari 11 menjadi 13 bayi. Hal ini menggambarkan adanya ketimpangan dalam penanganan masalah gizi buruk di tingkat kecamatan yang membutuhkan perhatian lebih.

Kecamatan Cilegon sendiri, yang merupakan ibu kota Kota Cilegon, berhasil menurunkan jumlah bayi dengan gizi buruk dari 13 bayi pada 2023 menjadi 6 bayi pada tahun 2024. Meskipun angka ini menurun, jumlah tersebut tetap memperlihatkan bahwa perbaikan yang dilakukan belum sepenuhnya menjangkau seluruh bayi yang membutuhkan perhatian.

Baca Juga :  Belasan Anggota DPR RI Positif Covid

Peran Pemerintah yang Masih Dibutuhkan

Meski data menunjukkan adanya penurunan kasus gizi buruk, tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi ini masih menjadi tantangan besar bagi Kota Cilegon. Sejumlah pihak pun menyuarakan perlunya penanganan yang lebih sistematis dan menyeluruh. Pasalnya, penurunan angka ini belum mencerminkan perubahan yang signifikan di semua wilayah. Bahkan, beberapa kecamatan mengalami peningkatan, yang bisa jadi menunjukkan adanya celah dalam distribusi layanan kesehatan dan gizi.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon, Ratih Purnama Sari, yang dihubungi oleh wartawan BantenNews.co.id, memilih untuk tidak memberikan komentar lebih lanjut mengenai masalah ini. Dalam pesan singkatnya melalui WhatsApp, Ratih mengarahkan wartawan untuk bertanya kepada bawahannya, dan tidak memberikan penjelasan lebih jauh. Saat dihubungi lebih lanjut, pesan-pesan tersebut tidak mendapatkan respons.

Tanggapan dari instansi terkait menjadi kunci dalam memecahkan masalah ini. Program-program pemantauan gizi, penyuluhan kepada orangtua, serta peningkatan akses terhadap makanan bergizi seharusnya menjadi prioritas bagi Pemerintah Kota Cilegon. Penguatan kerja sama antara sektor kesehatan, pendidikan, dan sosial juga diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak-anak yang sehat.

Kendati upaya penurunan jumlah bayi dengan gizi buruk sudah mulai menunjukkan hasil, namun perjalanan untuk memastikan setiap bayi di Cilegon mendapatkan gizi yang cukup masih panjang. Kasus gizi buruk ini bukan hanya masalah medis, tetapi juga masalah sosial-ekonomi yang perlu ditangani secara komprehensif.

Tantangan besar menanti Cilegon di masa depan. Semua pihak harus bersatu untuk memastikan bahwa tidak ada lagi bayi yang harus menderita akibat gizi buruk. Solusi jangka panjang, yang meliputi perbaikan pola makan, peningkatan akses kesehatan, dan penyuluhan kepada masyarakat, harus segera diterapkan agar generasi masa depan Kota Cilegon bisa tumbuh sehat dan kuat.

Baca Juga :  Tekan Kasus DBD, Dinkes Kota Tangerang Gencarkan Satu Rumah Satu Jumantik

Namun, bagi para orangtua yang sudah merasakan dampak dari permasalahan ini, setiap penurunan jumlah bayi gizi buruk adalah langkah kecil menuju perubahan. Tetapi mereka tahu, perubahan yang lebih besar masih dibutuhkan untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Penulis: Usman Temposo
Editor: Wahyudin