PANDEGLANG – Kepulan asap tipis mengepul dari puluhan tungku. Warga Desa Bandung, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Pandeglang tampak lebih sibuk dari biasanya.
Menguar aroma bubur dari rumah-rumah warga. Tangan cekatan ibu-ibu tampak mengaduk bubur suro dalam kuali besar. Pemandangan itu terlihat saat pembuka Festival Bubur Suro.
Festival ini merupakan agenda tahunan Desa Wisata Bandung yang setiap tahun digelar untuk memperingati 10 Muharam. Festival ini juga menjadi ruang bertemunya budaya dan roda ekonomi warga.
Puluhan peserta mengikuti lomba memasak bubur suro dengan berbagai kreasi. Bubur hasil olahan warga kemudian dinilai dalam perlombaan yang menjadi salah satu daya tarik utama festival.
Di sisi lain kawasan balai desa, stan-stan UMKM dipenuhi pengunjung yang berburu kuliner tradisional, makanan olahan, hingga produk unggulan masyarakat setempat.
Festival Bubur Suro merupakan puncak rangkaian peringatan Tahun Baru Islam di Desa Bandung. Perayaan telah dimulai sejak 1 Muharam melalui pawai obor yang melibatkan sekitar 1.230 peserta.
Kepala Desa Bandung, Wahyu Kusnadiharja, mengatakan Festival Bubur Suro telah menjadi bagian dari calendar of event Desa Wisata Bandung dan diselenggarakan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Satya Pakuan bersama masyarakat.

“Festival ini merupakan agenda tahunan desa wisata yang diselenggarakan Pokdarwis Satya Pakuan bersama masyarakat. Yang membanggakan, seluruh kegiatan ini murni didanai secara swadaya oleh masyarakat Desa Bandung,” ujarnya.
Menurut Wahyu, semangat gotong royong menjadi kekuatan utama penyelenggaraan festival. Mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, seluruh elemen masyarakat terlibat aktif sehingga tradisi yang diwariskan turun-temurun tetap hidup dan berkembang.
Kemeriahan festival juga mendapat perhatian Bupati Pandeglang, Raden Dewi Setiani, yang untuk pertama kalinya menghadiri kegiatan tersebut. Ia mengaku terkesan melihat kekompakan masyarakat dalam menjaga tradisi sekaligus menghidupkan aktivitas ekonomi desa.
“Desa Bandung memiliki banyak potensi luar biasa. Tradisi seperti ini layak menjadi contoh bagi desa-desa lainnya,” katanya.
Sebagai desa binaan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Desa Bandung juga mendapatkan pendampingan melalui berbagai program pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kehadiran perguruan tinggi dalam festival menjadi bagian dari upaya mendukung pengembangan potensi desa berbasis budaya dan pariwisata.
Dosen pembina Desa Bandung dari Untirta Dodi Hermawan, menilai desa tersebut memiliki modal besar untuk berkembang. Selain memiliki potensi sumber daya alam, termasuk ikan mas Sinyonya yang merupakan ikan endemik Kabupaten Pandeglang, masyarakat Desa Bandung juga dinilai terbuka terhadap inovasi dan memiliki komitmen kuat membangun desanya.
“Pendampingan yang dilakukan Untirta didasarkan pada keyakinan bahwa Desa Bandung memiliki potensi yang sangat besar. Kami berharap desa ini tidak hanya mampu menjaga tradisi seperti Festival Bubur Suro, tetapi juga mengembangkannya menjadi daya tarik desa wisata yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Menurut Dodi, keberhasilan pengembangan desa tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, Pokdarwis, pelaku UMKM, dan masyarakat menjadi fondasi penting agar potensi lokal terus tumbuh secara berkelanjutan.
Festival Bubur Suro di Desa Bandung menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berhenti pada seremoni tahunan. Tradisi justru dapat menjadi penggerak ekonomi sekaligus memperkuat identitas desa ketika dikelola secara bersama-sama. **
