
“WIHH, karena gravitasi,” celetuk seorang anak ketika pesawat kertas biru yang dilemparkannya melayang beberapa meter sebelum jatuh ke tanah. Ia bergegas mengambilnya, memeriksa lipatan sayap, lalu kembali mencoba. Di sekelilingnya, anak-anak lain melakukan hal serupa. Mereka mengamati pesawat masing-masing, memperbaiki lipatan yang kurang rapi, dan mengujinya lagi. Sorak kegirangan muncul setiap kali sebuah pesawat berhasil bertahan lebih lama di udara.
Rabu sore (14/10/2026), teras Masjid Al Ikhlas di Lingkungan Karundang Kajaroan, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, menjadi arena bermain anak-anak. Kertas origami berwarna-warni berseliweran di udara. Sebagian anak sibuk melipat, sementara sebagian lainnya berlari mengambil pesawat yang jatuh.
Kegiatan mereka merupakan bagian dari aktivitas Rumah Baca Kajaroan yang rutin berlangsung setiap Rabu pukul 16.00 hingga 17.30 WIB. Sekitar 10 anak, mulai dari usia taman kanak-kanak hingga kelas VI sekolah dasar, berkumpul untuk bermain dan belajar bersama para pendamping yang sebagian merupakan mahasiswa.
Sebelum pesawat kertas beterbangan, sore itu dibuka dengan permainan tradisional. Fikar, siswa kelas III sekolah dasar yang mengenakan kaus oranye, duduk berhadapan dengan Suhepi, salah seorang pendamping. Di antara keduanya, papan congklak menjadi pusat perhatian. Fikar beberapa kali kalah, tetapi ia tak berniat berhenti. Aa“Lagi ah lagi,” katanya.
Di belakang mereka, anak-anak lain bermain petak umpet, lompat tali, bekel, dan boneka tangan. Halaman masjid menjadi tempat bagi mereka untuk berlari, tertawa, dan mencoba berbagai permainan. Setelah sekitar 10 menit, Dapid, salah seorang pemrakarsa kegiatan, bersama Fahri, pendamping lainnya, mengajak anak-anak berkumpul.
Buka Buku
Di salah satu sudut masjid, tersedia buku cerita, bacaan bergambar, dan lembar mewarnai. Anak-anak dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan jenjang sekolah, kemudian dipersilakan memilih bacaan sesuai minat dan kemampuan. Mereka yang sudah lancar membaca menyimak sendiri, sedangkan anak-anak yang masih kesulitan mendapat bantuan untuk mengeja.
“Ca-ha-ya, Ma-ta-ha-ri,” seorang anak melafalkan kata demi kata dari buku tentang planet-planet.
Ia membaca perlahan, menyatukan suku kata sebelum beralih ke baris berikutnya. Anak-anak lain menekuni buku masing-masing. Para pendamping sesekali membantu memperbaiki ejaan. Mereka diberi kesempatan belajar sesuai kemampuan. Anak-anak yang sudah lancar membaca bahkan diminta menceritakan kembali isi bacaan mereka.
Setelah membaca, kegiatan berlanjut dengan membuat pesawat kertas. Anak-anak memperhatikan cara pendamping melipat origami, lalu mencoba mengulanginya sendiri. Ketika bentuk pesawat tidak sesuai harapan, mereka mendatangi pendamping untuk meminta bantuan. Begitu selesai, pesawat itu kembali dilempar ke udara.
Anak-anak belajar melalui percobaan sederhana. Lipatan yang kurang tepat diperbaiki, pesawat yang jatuh diambil kembali, dan lemparan berikutnya menjadi kesempatan untuk mencoba lagi. Kegembiraan mereka tak bergantung pada apakah pesawat itu terbang paling jauh atau paling lama.
Menjelang akhir kegiatan, anak-anak kembali duduk melingkar. Kali ini, mereka berbicara tentang cita-cita. Ada yang ingin menjadi pilot, guru, hingga sopir truk. Haikal membuat teman-temannya tertawa ketika mengubah pilihannya di tengah jawaban.
“Aku mau jadi boxer (petinju) eh ga jadi, jadi youtuber aja,” katanya.
Percakapan berlangsung ringan. Anak-anak bisa menyampaikan keinginan masing-masing tanpa takut dianggap salah, sementara teman-temannya mendengarkan dan menanggapi dengan tawa.
Azan Magrib mengakhiri kegiatan sore itu. Setelah satu setengah jam bermain dan belajar, anak-anak bersiap pulang dengan tubuh berkeringat dan wajah ceria. Satu per satu mereka meninggalkan halaman masjid, membawa pulang cerita tentang permainan, buku, dan pesawat kertas yang mereka buat bersama.
Kegiatan Rumah Baca Kajaroan berawal dari kegelisahan Dapid dan Deny Surya Permana ketika melihat anak-anak di lingkungan mereka kerap berkumpul di pos ronda untuk bermain gim melalui telepon genggam. Pemandangan itu mendorong keduanya mencari kegiatan alternatif yang bisa memperkenalkan permainan tradisional sekaligus membangun kebiasaan membaca.
“Harapannya sih mereka bisa lepas dari handphone, terus bisa mengenal permainan tradisional juga ka,” ujar Dapid.
Rumah Baca Kajaroan mulai berjalan pada 28 Agustus 2026. Pada tahap awal, Dapid dan Deny berkoordinasi dengan pengurus RT untuk mengajak anak-anak datang. Peserta yang hadir belum mencapai 10 orang. Mereka perlu mengajak anak-anak secara langsung agar mau mengikuti kegiatan.
Seiring waktu, kebiasaan itu mulai terbentuk. Menurut Dapid, anak-anak kini datang dengan kesadaran sendiri, tanpa perlu berulang kali dipanggil.
“Alhamdulillah sampai sekarang mereka sudah enggak perlu dibilang, ‘Ayo ke sini, ke sini, ke sini,’ tapi mereka sudah berdatangan sendiri,” kata Dapid.
Kegiatan tersebut kemudian melibatkan mahasiswa penerima beasiswa program Satu Keluarga Satu Sarjana dari Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Banten, termasuk Suhepi dan Fahri. Dapid, yang juga menjadi wali asrama mahasiswa penerima beasiswa, mengajak mereka ikut mendampingi anak-anak.
Kehadiran para mahasiswa membuat kegiatan tak berhenti pada permainan dan membaca. Mereka mulai merencanakan kegiatan lain untuk memperluas pengalaman anak-anak. Pada Desember mendatang, mereka berencana mengadakan pementasan atau kegiatan yang dapat disaksikan orang tua, bertepatan dengan peringatan Hari Ibu. Mereka juga ingin mengajak anak-anak mengikuti jelajah literasi ke kawasan Banten Lama.
Rencana itu diharapkan membawa anak-anak keluar dari lingkungan sehari-hari untuk mengenal tempat dan pengalaman baru. Membaca tak harus berhenti pada halaman buku, sebagaimana belajar juga tak selalu berlangsung di dalam kelas.
Untuk sementara, perubahan di Karundang Kajaroan terlihat dari hal-hal sederhana. Anak-anak mulai datang sendiri setiap Rabu sore. Mereka bermain bersama, membuka buku, belajar mengeja, dan membuat mainan dengan tangan mereka sendiri.
“Pokoknya semoga bisa jalan terus dan makin banyak kegiatannya,” harap Dapid.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: TB Ahmad Fauzi