SERANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten berupaya memperkuat layanan kesehatan jiwa agar masyarakat lebih mudah mendapatkan pendampingan dan penanganan sejak dini. Salah satu langkah yang direncanakan adalah menempatkan tenaga psikolog klinis di seluruh puskesmas untuk memperluas akses pelayanan kesehatan mental.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti, mengatakan kesehatan jiwa merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh. Karena itu, penanganannya perlu terintegrasi dengan pelayanan kesehatan dasar agar masyarakat dapat memperoleh bantuan sesuai kebutuhan.
Rencana penempatan psikolog klinis tersebut disampaikan Ati dalam Musyawarah Wilayah II Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah Banten pada Juli 2026. Dinkes Banten melakukan pemetaan kebutuhan tenaga profesional di delapan kabupaten dan kota untuk mendukung pemerataan layanan kesehatan jiwa.
“Kami sedang berupaya agar seluruh fasilitas layanan kesehatan di Banten ini harus terintegrasi dengan kesehatan jiwa sampai di tingkat puskesmas,” ujar Ati, sebagaimana diberitakan dalam kegiatan tersebut.
Menurut Ati, pemerataan tenaga psikolog klinis menjadi tantangan yang perlu diselesaikan. Sebab, ketersediaan tenaga profesional belum tersebar secara merata, sementara masyarakat di berbagai wilayah membutuhkan akses layanan kesehatan jiwa yang mudah dijangkau.
Pemetaan kebutuhan tenaga kesehatan dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah puskesmas, rumah sakit umum daerah (RSUD), serta ketersediaan psikolog klinis di setiap wilayah. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat pelayanan, terutama bagi masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap konsultasi dan pendampingan psikologis.
Deteksi Dini untuk Cegah Masalah Berlarut
Penguatan layanan kesehatan jiwa juga perlu diiringi dengan deteksi dini. Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan perubahan emosi, perilaku, pola tidur, maupun kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari yang berlangsung terus-menerus.
Masalah kesehatan jiwa dapat dialami siapa saja, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lanjut usia. Tekanan pekerjaan, persoalan keluarga, masalah sosial, serta berbagai pengalaman hidup dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Kementerian Kesehatan menganjurkan skrining kesehatan jiwa sebagai langkah untuk mengenali masalah sejak awal. Skrining dapat dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas, sehingga hasilnya dapat ditindaklanjuti sesuai kondisi individu.
Dalam pelayanan kesehatan dasar, tenaga kesehatan dapat membantu melakukan pemeriksaan awal, memberikan edukasi, serta mengarahkan pasien untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut jika diperlukan. Apabila kondisi membutuhkan pemeriksaan mendalam, pasien dapat dirujuk kepada psikolog klinis atau dokter spesialis kedokteran jiwa sesuai kebutuhan.
Dengan akses layanan yang lebih dekat, masyarakat diharapkan tidak menunggu sampai masalah kesehatan jiwa mengganggu aktivitas sehari-hari sebelum mencari pertolongan.
Hapus Stigma terhadap Gangguan Kesehatan Jiwa
Selain keterbatasan layanan, stigma di masyarakat juga menjadi tantangan dalam penanganan masalah kesehatan jiwa. Sebagian orang masih merasa takut dianggap lemah atau mendapat penilaian negatif ketika mengungkapkan masalah psikologis yang dialaminya.
Padahal, mencari bantuan profesional merupakan salah satu langkah untuk menjaga kesehatan. Masyarakat perlu membangun lingkungan yang mendukung, baik di keluarga, sekolah, tempat kerja maupun lingkungan sosial, agar orang yang mengalami masalah kesehatan jiwa merasa aman untuk bercerita dan mendapatkan pertolongan.
Keluarga juga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan kondisi anggota keluarga. Mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan dukungan, dan membantu mengakses layanan profesional dapat menjadi langkah awal untuk mencegah masalah berkembang lebih jauh.
Kementerian Kesehatan turut mengingatkan masyarakat agar peka terhadap perubahan kondisi orang-orang di sekitarnya. Dukungan dapat dimulai dengan bertanya tentang kondisi mereka, mendengarkan keluhannya, menemani, serta menghubungkan mereka dengan bantuan yang sesuai.
Perkuat Layanan Kesehatan Jiwa di Daerah
Dinkes Banten juga memiliki program promotif dan preventif yang berkaitan dengan kesehatan jiwa, termasuk deteksi dini pada kelompok usia sekolah. Program tersebut ditujukan untuk membantu mengenali persoalan psikologis sejak remaja, sekaligus meningkatkan pemahaman tentang pentingnya menjaga kesehatan mental.
Selain itu, penguatan masyarakat melalui program Desa Siaga Sehat Jiwa dapat melibatkan pemerintah desa, kader kesehatan, keluarga, dan petugas puskesmas. Kegiatannya antara lain edukasi kesehatan jiwa, pendampingan orang dengan gangguan jiwa, serta dukungan bagi keluarga yang merawatnya.
Pemerataan layanan diharapkan tidak hanya memperluas akses konsultasi, tetapi juga meningkatkan kesinambungan penanganan bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan dalam jangka panjang.
Melalui penguatan tenaga profesional, deteksi dini, dan dukungan lingkungan sosial, layanan kesehatan jiwa di Banten diharapkan semakin mudah dijangkau. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh pertolongan yang tepat tanpa harus menghadapi persoalan kesehatan mental seorang diri. (ADV)
