SERANG – Suara benturan pelindung tubuh dan sorak penonton memenuhi Indoor Stadium, Kelapa Dua, Tangerang, awal Oktober 2026. Di atas matras, Almeer Sya’ban Bahri berdiri dengan fokus penuh.
Usianya baru 10 tahun, tetapi ia harus menghadapi lawan-lawan tangguh dalam kejuaraan taekwondo internasional.
Setiap tendangan menuntut ketepatan. Setiap gerakan membutuhkan keberanian. Di arena Pugnator International Open Taekwondo Grandslam Youth Champions 2026, murid kelas IV SDIT An-Nur Kota Serang itu menguji hasil latihan panjangnya.
Almeer akhirnya membawa pulang medali perak pada kategori Kyorugi Pra-Cadet Male kelas berat di atas 45 kilogram. Ia belum berdiri di podium tertinggi, tetapi pencapaian itu menjadi bukti keberaniannya bersaing di tengah atlet-atlet muda dari berbagai negara.
Bagi Almeer, medali perak itu bukan sekadar keping logam yang menggantung di leher. Ada disiplin, latihan, dan tekad yang mengantarnya sampai ke podium.
Ketika sebagian anak seusianya menghabiskan akhir pekan dengan bermain gawai atau berkumpul bersama teman, Almeer menjalani rutinitas berbeda. Ia mengasah kemampuan bela diri di klub ONE Taekwondo Fighter.
Latihan fisik, pengulangan teknik tendangan, dan pembentukan strategi menjadi bagian dari perjalanannya. Di atas matras latihan, ia belajar bahwa kemenangan tidak datang hanya dengan keberanian.
Ia juga membutuhkan ketekunan, konsentrasi, dan kemampuan mengendalikan diri.
Kejuaraan di Tangerang menghadirkan tantangan yang berbeda. Almeer harus menerapkan semua bekal latihan itu ketika menghadapi lawan dalam pertandingan sesungguhnya.
Dukungan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), KONI, dan Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) turut mengiringi penyelenggaraan kejuaraan tersebut. Namun, ketika pertandingan dimulai, Almeer tetap harus mengandalkan kemampuan dan kesiapan dirinya sendiri.
Ia mampu melewati rangkaian pertandingan hingga mengamankan posisi kedua. Medali perak itu menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan awalnya sebagai atlet muda dari Kota Serang.
Cerita Almeer di kejuaraan itu tidak berhenti pada medali perak. Di arena yang sama, sang kakak, Farhan Sanur Ramadhan (20), juga berjuang menghadapi lawan-lawannya.
Farhan tampil pada kategori Kyorugi kelas 80,1–87 kilogram. Ia berhasil meraih medali emas dan berdiri di podium tertinggi.
Dua bersaudara itu pulang membawa hasil berbeda, tetapi sama-sama membanggakan. Almeer menggenggam perak, sedangkan Farhan membawa emas. Keduanya membuktikan kemampuan masing-masing melalui pertandingan di ajang internasional.
Prestasi mereka juga memperlihatkan bagaimana olahraga dapat tumbuh menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga. Sang kakak dan adik sama-sama menekuni taekwondo, menjalani latihan, lalu menguji kemampuan di arena yang sama.
Bagi keluarga mereka, dua medali itu tentu membawa kebahagiaan tersendiri. Bagi Kota Serang, capaian tersebut menambah daftar prestasi atlet daerah yang mampu bersaing dalam kejuaraan berskala internasional.
Usia Almeer masih sangat muda. Medali perak ini bukan akhir perjalanan, melainkan pijakan untuk menghadapi tantangan berikutnya.
Ia masih memiliki banyak hal untuk dipelajari: memperkuat teknik, meningkatkan kecepatan, membaca gerakan lawan, dan menjaga konsistensi saat bertanding. Dunia olahraga kompetitif menuntut proses panjang, bukan sekadar satu penampilan gemilang.
Prestasi Almeer juga membawa pesan bagi anak-anak lain di Banten. Mimpi besar tidak harus bermula dari kota besar atau fasilitas olahraga yang serba lengkap.
Dengan latihan terarah, disiplin, dukungan keluarga, dan pembinaan yang berkelanjutan, atlet muda dari daerah pun memiliki kesempatan untuk tampil di panggung yang lebih luas.
Keping perak yang kini menjadi bagian dari perjalanan Almeer menyimpan cerita tentang keberanian seorang anak menghadapi tantangan di luar zona nyamannya.
Sementara itu, medali emas Farhan melengkapi kisah dua saudara yang memilih jalur perjuangan serupa.
Di atas matras, keduanya membawa nama keluarga dan Kota Serang. Di luar arena, perjalanan mereka masih panjang. Dan bagi Almeer, medali perak itu bisa menjadi pengingat bahwa setiap langkah menuju podium tertinggi selalu dimulai dari keberanian untuk mencoba.
Tim Redaksi
