Beranda Peristiwa Kepala BKKBN: Kematian Ibu dan Bayi di Banten Masih Tinggi

Kepala BKKBN: Kematian Ibu dan Bayi di Banten Masih Tinggi

318
0
Acara Deklarasi Kabupaten Serang Ramah Perempuan dan Layak Anak, Senin (22/3/2021). (Nindia/BantenNews.co.id)

KAB. SERANG – Dalam rangka Hari Air Dunia ke-29 yang jatuh pada Senin (22/3/2021), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Muhadjir Effendy menekankan penyediaan air minum dan sanitasi layak serta perubahan perilaku dapat berintegrasi sebesar 70 persen terhadap pencegahan stunting.

Dalam hal ini, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengatakan selain penyediaan air minum yang layak, pendampingan pada ibu hamil menjadi suatu hal yang paling penting.

“Semua ibu hamil harus didampingi, itu penekanan saya. Kematian ibu dan bayi di Banten ini masih tinggi. Kuncinya semua ibu hamil harus didampingi, ini penting agar tidak lahir anak-anak stunting,” ujarnya yang ditemui usai Acara Deklarasi Kabupaten Serang Ramah Perempuan dan Layak Anak di Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Senin (22/3/2021).

Menurut mantan Kepala Instansi Kesehatan Reproduksi dan Bayi Tabung di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta ini kematian pada ibu dan bayi dapat disebabkan karena kehamilan di usia muda serta kondisi seperti ini juga dapat menyebabkan lahirnya bayi stunting.

“Jadi usia muda kurang dari 20 tahun sudah melahirkan itu bahaya dikarenakan panggulnya yang masih kecil,” terangnya.

Mantan Bupati Kulon Progo dua periode tersebut juga memaparkan sebanyak 43 persen ibu hamil di Indonesia mengalami anemia dan anemia masih menjadi salah satu penyebab angka kematian terbesar pada ibu hamil.

“Semua yang mau nikah harus periksa HB (Hemoglobin) untuk memeriksa anemia atau tidak. Karena ibu melahirkan akan mengeluarkan darah sekitar 200 hingga 300 cc,” paparnya.

Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah juga mengatakan pentingnya pendampingan pada ibu hamil, hal ini dikarenakan terjadinya kondisi stunting tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi namun juga disebabkan pemahaman dari ibu hamil yang masih kurang mengenai kehamilan.

“Tidak hanya dari masalah ekonomi namun pemahaman dari ibu hamil yang masih kurang. Misal yang terjadi dalam persoalan Posyandu (Pos Pelayanan Keluarga Berencana – Kesehatan Terpadu), sulitnya mengarahkan ibu hamil untuk datang ke Posyandu,” ujarnya.

Menurut Tatu, pendampingan dan kepedulian terhadap ibu hamil tidak hanya dari petugas kesehatan saja namun juga diharapkan seluruh komponen masyarakat bisa saling peduli dengan kondisi ibu hamil.

(Tra/Nin/Red)