Beranda Berita Premiun Kenapa Kota Tangerang yang Maju Masih Dipenuhi Kabel Semrawut?

Kenapa Kota Tangerang yang Maju Masih Dipenuhi Kabel Semrawut?

Petugas Trantib Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang menindak tegas dengan melakukan pemotongan terhadap dua utas kabel udara semrawut

TANGERANG – Minggu pagi di simpang underpass Jalan Hasyim Ashari, Ciledug, Kota Tangerang, sejumlah petugas Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) tampak sibuk menarik dua utas kabel besar yang menjuntai hingga menutupi ruas jalan. Kabel itu bukan sembarang kabel diameter cukup besar dan posisinya menggantung rendah hingga menyentuh kendaraan yang melintas. Lalu lintas sempat tersendat, pengendara harus memperlambat laju atau bahkan melindas kabel agar bisa melintas dengan aman.

Situasi ini bukan kali pertama terjadi di Kota Tangerang. Kota yang terus berkembang dan bertransformasi menjadi kawasan metropolitan itu justru masih menyimpan satu persoalan klasik: kabel udara semrawut.

“Sudah sangat mengganggu dan membahayakan bagi pengendara yang melintas,” ujar Agung Wibowo, Kepala Seksi Trantib Kecamatan Ciledug, Minggu (3/8/2025).

Ia menegaskan, pemotongan kabel sepanjang 20 meter itu dilakukan sebagai langkah darurat demi keselamatan pengendara, khususnya yang datang dari arah Jakarta.

Namun muncul satu pertanyaan yang mengusik: kenapa kota semaju Tangerang masih menyimpan wajah tua berupa kabel udara yang semrawut dan menggantung liar di atas jalanan?

Kota Modern, Kabel Lawas

Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang sendiri sebenarnya tak tinggal diam. Beberapa tahun terakhir, proyek pemindahan kabel utilitas ke dalam tanah sudah digagas. Sistem ducting bawah tanah disiapkan, terutama di kawasan pusat kota dan jalan protokol. Namun, implementasinya tak semudah membalik telapak tangan.

Kabel yang menjuntai bukan hanya milik PLN atau Telkom, melainkan gabungan dari berbagai provider internet, TV kabel, hingga jaringan telekomunikasi swasta lainnya. Koordinasi menjadi tantangan utama. Tak semua provider responsif saat diminta menata kabelnya.

Potong, Ikat, Tunggu Lagi?

Kembali ke Ciledug, saat kabel berhasil dipotong dengan bantuan petugas PLN karena mengandung serat fiber optik, petugas Trantib mengikat sisa kabel ke tiang dengan tali seadanya. “Kalau dibiarkan menjuntai lagi, tetap kita tindak. Kami akan terus lakukan patroli,” tegas Agung.

Baca Juga :  Bawa Senjata Tajam Resahkan Masyarakat, Pria Diduga ODGJ di Cilegon Diamankan

Namun langkah darurat seperti ini hanyalah solusi jangka pendek. Masalah akan terus berulang jika tak ada ketegasan regulasi dan kepatuhan dari pemilik kabel.

Bagi warga, fenomena kabel menjuntai tak hanya mengganggu estetika kota, tetapi juga memunculkan kekhawatiran akan keselamatan. Bayangkan jika kabel itu tersangkut ke pengendara motor, atau lebih parah lagi, menimbulkan korsleting saat hujan.

“Katanya kota pintar, tapi kenapa kabelnya masih seperti di kota lama?” celetuk Ridho, pengendara ojek online yang kerap melintas di jalan itu.

Menuju Langit yang Bersih

Menata kabel udara bukan sekadar soal infrastruktur, tapi juga cerminan wajah kota. Kota yang rapi di atas berarti kota yang peduli pada keselamatan, keteraturan, dan estetika. Warga berharap, ke depan, langit-langit Kota Tangerang bisa bersih dari belitan kabel yang tak semestinya menggantung.

Dan mungkin, sudah waktunya pertanyaan “kenapa masih ada kabel menjuntai?” dijawab dengan tindakan nyata yang menyeluruh—bukan sekadar pemotongan darurat.

Tim Redaksi