Beranda Advertorial Kemenkes Tunjuk RSU Tangsel Jadi Mentor Melatih Pegawai RS Swasta

Kemenkes Tunjuk RSU Tangsel Jadi Mentor Melatih Pegawai RS Swasta

Kementerian Kesehatan menunjuk Rumah Sakit Umum (RSU) Tangsel untuk menjadi tim mentor dalam agenda lokakarya orientasi tim pendampingan RS Swasta se-Tangsel

TANGSEL – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjuk Rumah Sakit Umum (RSU) Tangerang Selatan (Tangsel) untuk menjadi tim mentor dalam agenda lokakarya orientasi tim pendampingan RS Swasta se-Tangsel.

Dalam agenda tersebut, juga bekerjasama lembaga USAID bidang kesehatan dan membahas tentang maternal atau proses kelahiran dan persalinan.

Kepala Bidang Pelayanan Medis RSU Tangsel, dr. Taufik Dippa

Kepala Bidang Pelayanan Medis RSU Tangsel, dr. Taufik Dippa Sempana menjelaskan, tujuan lokakarya ini untuk menekan angka kematian ibu atau bayi saat proses persalinan.

“Apa itu Maternal. Maternal itu adalah proses kelahiran dan persalinan, neonatus adalah proses bayi bayi baru lahir. Jadi intinya tujuan ini adalah untuk melatih kita supaya bisa mengurangi angka kematian ibu dan angka kematian bayi,” kata dr. Taufik di Auditorium RSU Tangsel, Rabu (26/1/2022).

Ditunjuknya RSU Tangsel menjadi mentor, nantinya mempunyai kewajiban untuk melatih pegawai-pegawai di RS Swasta.

Rumah Sakit Umum (RSU) Kota Tangerang Selatan (Tangsel)

“Nah karena kita ditunjuk sebagai mentor, nanti akan punya kewajiban untuk melatih rumah sakit, rumah sakit swasta di Tangsel ya. Jadi kita mengajari Simatneo (sistem aplikasi) ini tadi di aplikasikan ya dan dilakukan,” paparnya.

Setidaknya, dalam agenda tersebut terdapat 8 RS Swasta yang mengikuti lokakarya. Dimana nantinya, program ini akan berjalan selama lima tahun.

“Jadi kita penanggungjawabnya. Nah program ini enggak ujug-ujug. Jadi programnya USAID ini ada lima tahun bertahap, jadi program selesai 5 tahun direncanakan 5 tahun itu semua sudah terpapar. Sehingga kematian bayi dan ibu akibat persalinan di Tangsel bisa dikurangi,” jelas dr. Taufik.

Adapun, RS Swasta lainnya diwajibkan untuk mentransfer ilmu atau transfer of knowledge kepada RS Swasta yang belum mendapat pelatihan di lokakarya.

“Nah nanti mereka sistemnya seperti kayak transfer of knowledge, kita di transfer oleh USAID ini, nanti kita diwajibkan mentransfer ke 8 RS Swasta ini mungkin nanti ada lagi mentransfer terus lainnya yang belum. Tapi pendampingan memang langsung, kitab akan didampingi terus selama 5 tahun ini termasuk kita sebagaimana didampingi oleh USAID,” paparnya.

Dari lokakarya ini juga, pegawai atau bidan mendapat pelatihan dalam menangani kegawatdaruratan kerja.

“Apa yang kita dapat di sini kita akan sampaikan juga ke rumah sakit yang menjadi sasaran kita, salah satu contoh misalnya untuk bidan. Bidan bagaimana sih cara menangani kegawatdaruratan kerja? Bagaimana menangani sebelum sampai ke tangan dokter, pelatihan-pelatihan seperti itu. Kemudian cara penatalaksanaan ruangannya seperti apa,” tutup dr. Taufik. (Adv)