Beranda Nasional Kemenhub Mulai Atur Skenario Arus Balik di Pelabuhan Bakauheni Menuju Merak

Kemenhub Mulai Atur Skenario Arus Balik di Pelabuhan Bakauheni Menuju Merak

97
0
Kapal Roro bersandar di Dermaga 7 Pelabuhan Merak - Fotografer Usman Temposo/BantenNews.co.id

CILEGON – Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Setyadi mengatakan, saat arus balik Idul Fitri 2019, ada 64 kapal yang siap beroperasi. Namun, hanya 34 hingga 40 kapal yang akan dikerahkan mengangkut pemudik dari Pelabuhan Bakauheni menuju Merak.

“Skema bongkar dan muat, akan diberlakukan di Dermaga 5 sampai 6 di Bakauheni, hanya muat saja. Kemudian bongkarnya di Dermaga 4,5 dengan 7 di Merak,” kata Budi Setyadi, usai rapat persiapan arus balik di Pelabuhan Merak, Senin (3/6/2019).

Pendataan penumpang atau manifest melalui e-KTP tetap berlaku. Namun jika terjadi kepadatan, maka manivest secara manual akan kembali dilakukan.

Kemudian, kapal yang dioperasikan harus berukuran minimal 5 ribu gross ton (GT) dengan Port time atau waktu bongkar muat, tidak boleh lebih dari 45 menit.

“Skenario pengaturan kendaraan dan pemuatan ke kapal, berlaku di semua kondisi dengan skenario sangat padat, dengan waktu port time maksimal 45 menit. Jadi isi enggak isi, harus berangkat,” ucap Budi seperti dikutip dari liputan6.com.

Pemberlakuan diferensiasi atau perbedaan harga tiket pun berlaku sejak 7-10 Juni 2019. Menyeberang saat malam hari, mulai pukul 20.00 wib hingga 08.00 wib, harga tiket lebih mahal 10 persen. Sedangkan siang hari, lebih murah 10 persen.

Jika terjadi kecelakaan laut atau kapal tidak bisa sandar di Pelabuhan Bakauheni, maka hanya dikenakan biaya ganti Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar Rp 25 juta, bagi tugboat yang membantu proses sandar kapal selama tiga jam. Namun jika hal itu terjadi di Pelabuhan Merak, maka dikenakan biaya normal.

“Selama arus balik, penggantian kapal hanya dilakukan di Pelabuhan Merak. Dan (penggantian kapal) untuk di Bakauheni, hanya dalam kondisi emergency saja,” jelasnya.

Sementara itu, hingga H-2 Idul Fitri, masih ada 10 ribu kendaraan roda empat yang belum menyeberang dari Pulau Jawa ke Sumatera. Sedangkan pemudik roda dua, tercatat masih ada 13 ribu kendaraan. Sehingga, pemudik diprediksi akan terus mengalir hingga Selasa malam, 4 Juni 2019.

“Bahwa sampai saat sekarang ini, masih ada tersisa yang belum menyebrang dari Jawa ke Sumatera. Jadi malam ini hungga nanti (malam), masih terjadi arus mudik,” kata Budi Setyadi.

Sedangkan pemberlakukan diferensiasi harga arus balik dan mudik, saat siang hari lebih mahal 10 persen dan malam hari lebih murah 10 persen, hanya sedikit merubah pola arus mudik penumpang dari Merak menuju Bakauheni.

“Dari beberapa tahun lalu, kita selalu berencana bagaimana mengurangi pemudik malam hari, menjadi siang hari. Baru bisa di eksekusi tahun 2019 ini,” terangnya.

Sedangkan menurut Dirut PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi, perubahan perilaku pemudik terlihat pada Rabu hingga Kamis, 29-30 Mei 2019.

Saat itu, pemudik mulai memadati Pelabuhan Merak jelang sahur hingga siang hari. Jika tahun sebelumnya selalu memadati Pelabuhan Merak pada malam hari.

“Terjadi sebuah gejala anomali di ASDP yang belum pernah terjadi. Pemudik yang biasa pulang malam lebih sedikit dibanding malam. Tapi pada hari itu, (pemudik) siang lebih tinggi 30 persen dibanding malam,” kata Ira.

Namun dia enggan memastikan perubahan perilaku pemudik hanya dikarenakan diferensiasi harga, pada tanggal 29-30 Mei tersebut. Karena setelah tanggal tersebut, pemudik di malam hari tetap tinggi. (Red)