Beranda Kesehatan Kembali Layani Pasien Umum, RSU Banten Kurangi Tempat Tidur Pasien Covid-19

Kembali Layani Pasien Umum, RSU Banten Kurangi Tempat Tidur Pasien Covid-19

849
0
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti

SERANG – Rumah Sakit Umum (RSU) Banten direncanakan kembali melayani pasien umum setelah sebelumnya menjadi rumah sakit pusat rujukan Covid-19 Provinsi Banten. Untuk itu, pihak RSU sendiri akan mengurangi jumlah tempat tidur pasien Covid-19 yang semula 250 menjadi hanya 100 tempat tidur.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti mengatakan, pertimbangan kembali RSU Banten untuk melayani pasien umum dikarenakan adanya tren oenurunan kasus positif Covid-19 di Provinsi Banten. Terkait pelaksanaan kembali pelayana umum akan dilakukan pada 26 Juli 2020 mendatang.

“Terkait kapan berakhir (RSU Banten) untuk melaksanakan kegiatan pusat rujukan Covid-19 batas akhir persiapan 25 Juli. Nantinya, tanggal 26 itu sudah ready untuk melayani pasien umum kembali,” kata Ati, Senin (29/6/2020).



Terkait persiapan sarana prasaran penunjang pelayanan pasien umum, Ati mengungkapkan, pihaknya saat ini tengah mempersiapkan pemisahan ruang perawatan dan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Covid-19 dengan pasien umum. Hal itu juga otomatis merubah peruntukkan tempat tidur dari 250 bed menjadi 100 bed.

“Tentunya mempersiapkan terlebih dahulu mensekat sekat mana nanti UGD covid mana UGD untuk pasien unum. Kita sedang persiapan itu,” ungkapnya.

Menurut Ati, pasien yang akan menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dan pasien BPJS Kesehatan akan kembali dilayani normal.

“Pasien SKTM yang memerlukan penanganan operasi atau pun penanganan persalinan dan cuci darah sudah bisa kita layani di (RSUB) tanggal 26 Juli,” ujarnya.

Sementara, Gubernur Banten, Wahidin Halim (WH) menyampaikan bahwa tren kasus Covid-19 masih terjadi setiap harinya. Meski begitu, kasusnya cenderung menurun. Termasuk angka kesembuhan diatas 50 persen dengan jumlah pasien kasus.

“Jumlah pasien yang meninggal dunia dari jumlah kasus hanya 6 persen. Artinya terjadi penurunan. Tapi, tingkat keberbahayaannya semakin rendah,” kata WH.

(Tra/Mir/Red)