Beranda Kesehatan Kasus Stunting di Lebak Melonjak, Cikulur Catat Angka Tertinggi

Kasus Stunting di Lebak Melonjak, Cikulur Catat Angka Tertinggi

Petugas kesehatan usai mengecek kesehatan warga Lebak. (Mg-Aldo Marantika/bantennews)

LEBAK — Angka stunting di Kabupaten Lebak meningkat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Lebak mencatat 5.550 balita mengalami stunting atau 5,4 persen dari 102.154 balita yang ditimbang dan diukur hingga Agustus 2026.

Jumlah tersebut naik 0,8 persen dibandingkan 2025. Saat itu, Dinkes Lebak mencatat 4.685 balita stunting atau 4,6 persen dari 101.811 balita.

Kepala Dinkes Lebak, Eka Darmana Putra membenarkan kenaikan tersebut saat dikonfirmasi, Jumat (18/9/2026).

“Data per Agustus 2026, jumlah balita stunting sebanyak 5.550 atau 5,4 persen. Berdasarkan data di atas terjadi kenaikan prevalensi stunting sebesar 0,8 persen,” kata Eka.

Kecamatan Cikulur mencatat angka stunting tertinggi. Puskesmas Cikulur melaporkan 538 balita stunting atau 29,56 persen dari 1.820 balita yang ditimbang dan diukur.

“Prevalensi stunting tertinggi di Puskesmas Cikulur, Kecamatan Cikulur, 538 balita atau 29,56 persen,” ungkapnya.

Eka menyebut, sejumlah layanan kesehatan belum mencapai target sebagai salah satu faktor kenaikan stunting.

Pemeriksaan kehamilan sesuai standar, misalnya, baru mencapai 45,96 persen dari target 66,6 persen hingga Agustus 2026. Kondisi itu menyisakan selisih 20,7 persen.

Capaian pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan juga baru mencapai 52,14 persen dari target 66,6 persen. Sementara pelayanan bayi baru lahir berada di angka 52,54 persen, masih di bawah target 66,6 persen.

Selain persoalan layanan kesehatan, Dinkes Lebak mencatat sejumlah faktor lain, seperti calon pengantin yang belum mengikuti bimbingan pencegahan stunting, rendahnya pemanfaatan lahan pekarangan untuk pangan lokal, serta pendampingan keluarga yang belum optimal.

Eka juga menyebut masih ada balita tanpa jaminan kesehatan, rumah tangga yang belum memiliki sanitasi aman, dan balita yang belum menerima imunisasi dasar lengkap.

Untuk menekan angka stunting, Dinkes Lebak menjalankan sejumlah intervensi. Program tersebut mencakup pemberian susu tinggi kalori atau Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) bagi balita stunting berdasarkan pemeriksaan dokter spesialis anak.

Baca Juga :  Korban Tenggelam Ditemukan

Petugas juga memberikan makanan tambahan lokal bagi balita dengan masalah gizi, termasuk berat badan tidak naik, berat badan kurang, gizi kurang, serta ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK) atau berisiko KEK.

Intervensi lain meliputi pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri, konseling calon pengantin, pemeriksaan ibu hamil, pelayanan persalinan dan bayi baru lahir, skrining kesehatan, serta pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita setiap bulan.

Dinkes Lebak juga menjalankan skrining bayi baru lahir, pelayanan KB pascapersalinan, deteksi dini tumbuh kembang, skrining anemia remaja putri, dan program Aksi Bergizi di sekolah.

Eka berharap, intervensi lintas sektor dapat menekan angka stunting dan mencegah munculnya kasus baru di Kabupaten Lebak.

“Harapannya dengan intervensi spesifik dan sensitif yang dilakukan secara kolaboratif, angka stunting di Kabupaten Lebak dapat menurun,” ujarnya.

Penulis : Mg-Aldo Marantika
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd