Beranda Kesehatan Kasus Covid-19 di Banten Naik 3 Sampai 4 Kali

Kasus Covid-19 di Banten Naik 3 Sampai 4 Kali

Kepala Dinkes Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti. (Iyus/BantenNews.co.id)

SERANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mengungkapkan temuan kasus Covid-19 mengalami peningkatan tiga hingga empat kali dengan rata-rata temuan kasus harian hampir mencapai 200 kasus. Kenaikan itu disebabkan penyebaran Covid-19 varian Omicron, dimana saat ini varian tersebut juga mengalami mutasi menjadi varian baru yaitu BA.4 dan BA.5.

Kepala Dinkes Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti mengatakan, jika dibandingkan pada bulan Mei 2022, kasus Covid-19 mengalami lonjakan yang signifikan.

“Intinya pandemi masih belum berakhir. Bulan kemarin sudah akan merujuk epidemis, tapi justru sekarang naik lagi tiga sampai empat kali lipat dari bulan lalu. Saat ini kasus diangka hampir 200 per hari,” kata Ati, Kamis (23/6/2022).

Ati mengungkapkan, naiknya kasus Covid-19 di Banten lebih banyak disebabkan impor kasus.

“Berawal tentu import, ya dari provinsi lain terutama (warga) yang banyak (terpapar) dari Tangerang Raya. Karena berdekatan dengan DKI, kita tahu DKI sebagai epicentrum adanya Covid-19 peningkatan varian baru,” ungkapnya.

Ati menjelaskan, untuk mengetahui pasien tersebut terpapar varian BA.4 dan BA.5 memerlukan waktu yang panjang. Setidaknya terdapat tiga tahapan untuk menentukan seseorang terpapar Omicron varian baru, yaitu PCR, STGF dan Whole.

“Covid varian BA4 dan BA5 kita kan untuk mengetahui itu varian omicron atau bukan atau omicron varian BA.4 atau BA.5 ini harus melalui tiga tahapan pemeriksaan. Pertama itu PCR, ketika orang habis PCR orang tidak akan tahu apakah Omicron, Delta atau apapun, nah makanya untuk bisa mencapai itu langkah dua STGF melakukannya,” jelasnya.

“Habis itu periksa lagi namanya Whole.¬† ini untuk mencapai itu memakan waktu yang lama kemudian reagen yang juga¬† mahal jadi kita tidak melihat yang covid saat ini meningkat dari varian Omicron atau tidak. karena apapun variannya untuk diagnostiknya, dari sisi pencegahan, pengobatan semuanya sama,” sambungnya.

Ati juga meminta kepada masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes).

“Kalau (sebelum ada kenaikan) prokes yang sedikit dilonggarkan yang boleh dilepas, namun sekarang ini kita harus mengetatkan. Tapi perbedaan dulu dengan sekarang, kita meminimalisir mobilitas masyarakat. Namun karena saat ini kita harus bangkit dari sisi ekonomi dan program lainnya yang jangan sampai tertinggal maka mobilitas masyarakat tidak dibatasi terutama untuk aktivitas yang bermanfaat, namun masker harus digunakan kembali dimanapun dan kapanpun,” tandasnya.(Mir/Red)