Beranda Pendidikan Juhdi, Pejuang Kemerdekaan yang Diabadikan Jadi Nama Jalan di Kota Serang

Juhdi, Pejuang Kemerdekaan yang Diabadikan Jadi Nama Jalan di Kota Serang

Jalan Juhdi di Kota Serang. (IST)

SERANG – Bagi warga Kota Serang, nama Jalan Juhdi tentu tidak asing. Ruas jalan di kawasan pusat kota ini setiap hari ramai dilalui kendaraan dan menjadi salah satu akses menuju kawasan Royal dan Alun-Alun Kota Serang.

Nama Jalan Juhdi diambil dari  nama seorang pejuang Banten, Muhammad Juhdi Ma’mur, yang terlibat dalam perjuangan bersenjata pada masa awal kemerdekaan.

Kisah tentang Juhdi terdokumentasi dalam penelitian sejarah berjudul Peranan Md. Juhdi Ma’mur dalam Organisasi Pembela Tanah Air (PETA) di Banten Tahun 1943–1945. Penelitian tersebut secara khusus membahas perjalanan Juhdi, termasuk bagian yang menjelaskan bagaimana namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan di Kota Serang.

Muhammad Juhdi Ma’mur berasal dari Kampung Pancaregang, Desa Pancanegara, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang. Ia disebut lahir pada 1917.

Jejak perjuangannya bermula pada masa pendudukan Jepang ketika ia bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA). Juhdi mendapat posisi sebagai Shodanco, yakni komandan peleton.

PETA merupakan organisasi militer yang dibentuk pemerintah pendudukan Jepang. Namun, keberadaan organisasi ini kemudian menjadi salah satu tempat lahirnya pengalaman militer para pemuda Indonesia yang setelah kemerdekaan berbalik menjadi kekuatan perjuangan Republik.Juhdi termasuk di dalamnya.

Setelah Indonesia merdeka, Juhdi bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Perjalanan Juhdi dari PETA ke BKR menjadi bagian dari perubahan besar yang terjadi di Banten setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Ketika Serang menjadi medan pertempuran

Situasi di Banten setelah kemerdekaan belum sepenuhnya aman. Pasukan Jepang masih berada di sejumlah tempat dan masih menguasai persenjataan. Di sisi lain, para pemuda dan pejuang Banten berusaha mengambil alih kekuasaan serta senjata untuk mempertahankan kemerdekaan.

Salah satu sasaran penting adalah Markas Kempetai di Serang (kini dikenal sebagai Gedung Juang) di dekat Alun-alun Serang)

Baca Juga :  Cara Siswa SMA 2 Kota Serang Segarkan Diri Usai PAS

Dalam buku Catatan Masa Lalu Banten, karya Halwany Michrob dan A. Mudjahid Chudari, Kempetai disebut sebagai polisi militer Jepang yang memiliki markas dengan pertahanan cukup kuat di Serang. Kawasan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam pergulatan kekuasaan setelah Jepang menyerah.

Rencana penyerangan akhirnya dilakukan pada 10 Oktober 1945. Pasukan BKR dan para pemuda yang hendak menyerang markas kampetau dibagi ke dalam sejumlah sektor. Pada sektor utara, pasukan mengambil posisi mulai dari perempatan Jalan Kantin hingga halaman Gedung Kabupaten Serang.

Dalam peristiwa tersebut, Juhdi berada di sektor utara. Juhdi membawa keiki-kanju, senjata yang digunakan BKR, dan bertugas sebagai pendamping Iski, komandan sektor utara.

Pertempuran kemudian pecah. Pasukan Jepang memberikan perlawanan dari markas Kempetai yang memiliki pertahanan kuat. Para pejuang BKR dan pemuda berusaha mengepung serta merebut markas tersebut.

Di tengah pertempuran itulah Juhdi gugur.

Penelitian mengenai Juhdi menyebut jasadnya kemudian dibawa ke kampung halamannya di Pancaregang, Pabuaran, untuk dimakamkan.

Jalan Kantin yang menjadi titik pasukan di sektor utara diubah namanya menjadi Jalan Juhdi.

 

 

Penggantian nama itu memiliki makna lebih dari sekadar perubahan administrasi.Nama Juhdi menjadi bentuk penghormatan terhadap seorang pejuang yang gugur dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

 

.

Kini, Jalan Juhdi telah berubah. Tidak ada lagi suara tembakan atau pasukan yang bergerak dalam kegelapan. Kawasan tersebut telah menjadi bagian dari pusat aktivitas masyarakat Kota Serang.

Pemerintah Kota Serang bahkan melakukan penataan kawasan Jalan Juhdi melalui pembangunan pedestrian dan pembenahan drainase. Penataan tersebut menjadi bagian dari upaya mempercantik kawasan pusat Kota Serang.

Tetapi perubahan fisik kota tidak seharusnya membuat sejarahnya hilang. Sebab, nama jalan sesungguhnya bisa menjadi monumen sejarah yang hidup.

Baca Juga :  Peristiwa Berdarah di Cinangka Sehari Jelang Proklamasi Kemerdekaan RI

Penulis : TB Ahmad Fauzi
Editor : TB Ahmad Fauzi