Beranda Pilkada Serentak 2020 Jokowi Tak Perlu Sungkan Menyerang Balik

Jokowi Tak Perlu Sungkan Menyerang Balik

Prabowo Subianto (kiri) dan Joko Widodo (kanan) saling berjabat tangan - foto istimewa detik.com

JAKARTA – Publik berharap debat calon presiden dan wakil presiden kedua pada 17 Februari mendatang lebih menarik dari debat sebelumnya. Termasuk, capres nomor urut 1 Joko Widodo diharapkan tampil lebih orisinal dan tidak ragu untuk menyerang balik.

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Adi Prayitno, mengatakan Jokowi tak perlu takut elektabilitasnya menurun gara-gara menyerang balik pasangan rivalnya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Karena inilah sebenarnya yang dinanti oleh swing voter maupun undicided vote, bukan sesuatu yang dibuat-buat,” kata Adi saat dihubungi di Jakarta, hari ini.

Jokowi, kata Adi, tinggal fokus dengan apa yang sudah dilakukan selama empat tahun memimpin pemerintahan.

Menyoal tema debat kedua yakni “Energi, Pangan, Sumber Daya Alam, Lingkungan, dan Infrastruktur”, Adi menyarankan agar Jokowi fokus pada infratruktur, program yang sudah melekat dengan Jokowi.

“Jadi infrastruktur ini Jokowi banget, karena satu-satunya yang paling nampak dan paling dirasakan secara langsung oleh rakyat adalah infrastruktur. Orang sekarang enggak ngeluh, misalnya mudik enggak macet, Jawa non-Jawa sekarang pembangunannya sama dan pengiriman barang dan jasa itu semakin lancar. Kan itu berarti nyata,” bebernya.

Jokowi, kata Adi, tak perlu takut rivalnya akan mengaitkannya dengan utang Negara. Sebab utang ini terukur dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Utang itu adalah suatu yang niscaya dimiliki oleh negara mana pun. Yang penting utang itu bisa dipertanggungjawabkan, bangun ini bangun itu tapi buktinya ada dan enggak dikorup. Bedanya dengan orde baru, sudah utang dikorupsi lagi,” sambungnya.

“Dan ingat, infrastruktur ini Jokowi banget”

Materi lain yang dinilai akan menarik dan rawan menjadi amunisi pasangan calon nomor 02, adalah pangan.

“Isu-isu pangan itu yang bakal diserang, salah satunya adalah import. Jadi ketika Jokowi nyerang artinya sedang menarasikan keberhasilannya, tapi ingat pertahanannya harus kuat juga. Kenapa diserang di impor, karena di tengah surplus katanya begitu beras yang banyak masih import saja,” katanya.

Dalam hal ini, Jokowi harus mampu menjelaskan dengan baik kenapa Indonesia harus import. Ini yang kemudian jawabannya harus diracik oleh Jokowi.

Selain impor, lanjut Adi, kenaikan BBM dan tarif dasar listrik juga akan menjadi bahan serangan kubu Prabowo-Sandi. Namun, untuk isu BBM dan TDL, Jokowi dianggap lebih mudah untuk menjelaskan.

“Tinggal disiapkan saja basis argumennya. Misalnya, mencabut subsidi tujuannya untuk mengubah mental, model dan gaya hidup masyarakat yang sangat tergantung dengan subsidi. Biar masyarakat kita ke depan itu mandiri, independen dan tidak tergantung pada subsidi seperti negara-negara maju lainnya. Apalagi subsidi itu seringkali tidak tepat sasaran,”.

“Harus total football. Menyerang, bertahan, dan jangan ragu untuk menyerang balik,” (you/Red)