PANDEGLANG – Nisa melangkah ke aliran sungai. Air menjadi jalan yang harus ia lalui untuk sampai ke sekolah. Setiap pagi, murid SDN Padahayu 2, Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang, Banten, menyeberangi sungai bersama teman-temannya.
Sudah dua tahun Nisa menjalani rutinitas itu. Sejak duduk di kelas II hingga kini kelas IV, ia masih menggunakan jalur yang sama. Jembatan yang dulu menjadi penghubung Kampung Cingenge dengan sekolah telah lama putus. Jembatan bambu yang sempat dibangun warga pun tak bertahan lama, hanyut terseret derasnya arus sungai.
“Tiap hari nyeberang, pulang pergi, bareng teman-teman,” kata Nisa, Sabtu (25/7/2026).
Bagi Nisa dan enam murid lainnya, menyeberangi sungai adalah cara paling cepat menuju SDN Padahayu 2. Jarak dari Kampung Cingenge ke sekolah hanya sekitar 500 meter jika ditempuh melalui sungai.
Ada jalur lain. Namun, jalan itu memaksa mereka memutar lebih dari lima kilometer. Kondisinya pun tidak lebih baik. Jalan rusak dan jarak yang jauh membuat rute tersebut sulit ditempuh, terutama bagi anak-anak yang harus berangkat dan pulang sendiri.
Nisa tak punya banyak pilihan. Ia tinggal bersama neneknya. Tidak ada anggota keluarga yang setiap hari dapat mengantarnya ke sekolah.
Sungai menjadi satu-satunya jalan yang bisa ia andalkan.
Namun, jalur itu berubah menjadi penghalang ketika hujan turun deras. Debit air meningkat dan arus sungai menjadi lebih kuat. Nisa dan teman-temannya tak berani menyeberang.
“Enggak ke sekolah, nanti dikasih tugas sama guru,” ujar Nisa.
Hari-hari tanpa sekolah bukan karena mereka tak ingin belajar. Mereka hanya tak memiliki jembatan untuk sampai ke ruang kelas.
Setiap hari, Nisa menyeberangi sungai bersama enam siswa lainnya. Mereka berjalan beriringan, saling menunggu dan memastikan satu sama lain dapat mencapai seberang dengan selamat.
Jembatan bambu yang pernah menjadi penghubung warga Kampung Cingenge dengan sekolah telah hilang dibawa arus. Sejak itu, belum ada jembatan pengganti yang dapat digunakan secara permanen.
Kondisi tersebut juga berdampak pada jumlah siswa dari Kampung Cingenge yang bersekolah di SDN Padahayu 2. Pihak sekolah menyebut tak banyak lagi anak dari kampung tersebut yang bersekolah di sana. Sebagian orang tua memilih mencari sekolah lain karena khawatir anak mereka harus menyeberangi sungai tanpa jembatan.
Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : TB Ahmad Fauzi
