H-2 Idul Fitri, suasana Alun-alun Kota Serang berubah. Bukan hanya dipadati pemudik dan warga yang berburu kebutuhan Lebaran, tetapi juga deretan lapak kecil penukaran uang baru yang bermunculan di tepi jalan.
Di bawah payung sederhana, para penyedia jasa menawarkan satu hal yang sulit didapat di bank menjelang Lebaran: uang pecahan baru.
Permintaan tinggi, sementara kuota penukaran di perbankan terbatas. Celah itu langsung dimanfaatkan pelaku usaha musiman.
Ahmad (23), salah satunya. Ia sudah empat tahun menjalani bisnis ini. Setiap Ramadan, ia kembali membuka lapak di titik-titik ramai.
“Orang butuh cepat, sementara di bank susah dapat. Di sini jadi alternatif,” kata Ahmad, Rabu (18/3/2026).
Ia mematok tarif berbeda untuk setiap pecahan. Uang Rp1.000 dikenai biaya hingga 25 persen. Pecahan Rp2.000 dan Rp5.000 sekitar 20 persen, sementara Rp10.000 dan Rp20.000 di kisaran 15 persen.
Sekilas terlihat menggiurkan. Namun Ahmad membantah anggapan itu. Setelah menghitung modal dan biaya operasional, ia hanya mengantongi margin sekitar 3 persen.
“Kelihatannya besar, tapi sebenarnya kecil setelah dipotong biaya,” ujarnya.
Meski begitu, bisnis ini tetap menjanjikan karena momentum. Ahmad mengaku baru dua hari membuka lapak, namun jumlah pelanggan terus meningkat seiring mendekatnya Lebaran.
Fenomena ini bukan sekadar praktik ekonomi informal. Ia mencerminkan kebutuhan tradisi masyarakat—membagikan uang baru kepada keluarga dan kerabat saat hari raya—yang terus hidup dari tahun ke tahun.
Di tengah keterbatasan layanan resmi, lapak-lapak kecil seperti milik Ahmad hadir sebagai solusi cepat. Sederhana, namun punya peran dalam menjaga denyut ekonomi musiman Kota Serang.
Penulis : Rasyid
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
