LEBAK – Aroma kemerdekaan mulai terasa di sejumlah sudut Kabupaten Lebak. Bukan hanya lewat bendera merah putih yang mulai menghiasi jalan dan rumah warga, tetapi juga dari tumpukan bambu yang memenuhi lapak para pengepul.
Memasuki Agustus, bambu mendadak menjadi barang yang banyak dicari. Warga membutuhkannya untuk tiang bendera, umbul-umbul hingga berbagai dekorasi lingkungan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di sebuah lapak pengepul bambu di Lebak, Sabtu (8/8/2026), potongan bambu tersusun rapi. Pengepul memilah batang demi batang sebelum mengirimkannya kepada pelanggan. Sebagian bambu bahkan sudah dicat merah putih agar siap dipasang di lingkungan warga.
Surdana, salah seorang pengepul, mengatakan lonjakan permintaan mulai terasa sejak awal Agustus. Bambu apus dan bambu berukuran kecil paling banyak dicari karena cocok menjadi tiang bendera dan umbul-umbul.
“Dari semua jenis bambu yang disiapkan, yang paling banyak diminati bambu apus dan bambu kecil untuk tiang bendera dan umbul-umbul karena konsumen mencari untuk kebutuhan Agustus,” kata Surdana.
Ia menyediakan berbagai jenis bambu, mulai dari apus, haur, betung hingga bambu hitam. Namun, tingginya kebutuhan tidak serta-merta membuat penjualan tahun ini melonjak.
Surdana justru menghadapi kendala pasokan. Kemarau membuat bambu lebih sulit diperoleh, sementara pengiriman juga menghadapi hambatan.
“Ya, untuk tahun ini agak kurang karena musim kemarau dan bambu pun agak sulit pengirimannya,” ujarnya.
Meski begitu, pesanan tetap mengalir. Surdana memasang harga berbeda untuk pembelian eceran dan borongan. Satu batang bambu untuk tiang bendera ia jual sekitar Rp10.000. Sementara pembelian dalam jumlah besar ia lepas dengan harga Rp6.000 hingga Rp7.000 per batang.
“Kebanyakan kita kirim ke Jakarta, Depok, Tangerang. Kalau kita jual satuan, lama habisnya,” ungkapnya.
Bagi pengepul, momen Agustus menjadi siklus tahunan yang ikut menggerakkan usaha mereka. Ketika warga mulai menghias lingkungan, kebutuhan bambu ikut naik.
Fenomena itu juga terlihat dari warga yang mulai membeli bambu meski dalam jumlah kecil.
Nandang, salah seorang warga, misalnya. Ia membeli tiga batang bambu untuk memasang bendera merah putih dan umbul-umbul di depan rumahnya.
“Iya, saya beli bambu cuma tiga batang untuk pemasangan bendera serta umbul-umbul di rumah,” katanya.
Bagi Nandang, memasang bendera bukan sekadar mengikuti kebiasaan setiap Agustus. Ia melihatnya sebagai bentuk sederhana untuk ikut meramaikan peringatan kemerdekaan.
“Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk antusiasme dan semangat nasionalisme dalam menyambut peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia,” ucapnya.
Dari lapak sederhana hingga halaman rumah warga, bambu kembali memainkan perannya setiap kali Agustus tiba.
Batang-batang bambu yang sebelumnya hanya menjadi komoditas biasa, kini berubah menjadi tiang yang mengibarkan merah putih. Di tengah hiruk-pikuk persiapan HUT ke-81 RI, para pengepul ikut merasakan denyut kemerdekaan lewat pesanan yang terus berdatangan.
Penulis : Sandi Sudrajat
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
