TANGERANG – Di tengah pesatnya pembangunan Kota Tangerang, berdiri kawasan-kawasan modern yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi seperti Modernland Tangerang dan Alam Sutera. Namun, di antara geliat kota tersebut, masih tersimpan sebuah kampung tua yang menyimpan kisah sejarah menarik tentang asal-usul namanya, yakni Kampung Pakojan.
Tak banyak yang mengetahui bahwa nama Kampung Pakojan bukan sekadar penanda wilayah. Di balik penyebutannya, tersimpan jejak dakwah seorang ulama sekaligus tokoh masyarakat yang dikenal sebagai penduduk pertama di kawasan itu, yakni K.H. Usman atau yang akrab disapa Haji Emen.
Dalam buku Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang, penulis Burhanudin mengungkapkan bahwa Haji Emen merupakan sosok yang pertama kali menambahkan nama “Pakojan” untuk wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai bagian dari Cipete, Kecamatan Pinang.
Hingga kini, sebagian masyarakat masih mengenal kawasan tersebut dengan sebutan Cipete Pakojan, sebuah nama yang menjadi pengingat sejarah panjang kampung tersebut.
“Yang menamakan Kampung Pakojan adalah Haji Emen. Sebelum berdakwah di kampung ini dulu memang belajarnya di Pakojan Jakarta. Dulunya diharapkan biar jadi pusat pembinaan agama. Tidak hanya pemberi nama, Haji Emen juga pendiri masjid pertama yang masih ada sampai sekarang termasuk makamnya di depan mimbar masjid yang terkenal dengan Kramat Pakojan,” tulis Burhanudin dalam bukunya.
Pemilihan nama Pakojan bukanlah tanpa alasan. Sebelum kembali ke kampung halamannya, Haji Emen menimba ilmu agama di kawasan Pakojan, Jakarta Barat. Pengalaman itu kemudian menginspirasinya untuk membangun pusat pendidikan dan dakwah Islam di tempat tinggalnya.
Harapannya sederhana namun besar, yakni agar Kampung Pakojan di Tangerang berkembang menjadi pusat pembinaan agama sebagaimana Pakojan di Jakarta yang sejak masa kolonial dikenal sebagai kawasan masyarakat Muslim, khususnya keturunan Arab.
Secara etimologis, istilah Pakojan diyakini berasal dari bahasa India, yakni kojal choja, yang berarti orang Muslim. Nama tersebut kemudian melekat pada kawasan Pakojan di Jakarta Barat yang dahulu menjadi permukiman komunitas Arab hingga akhir abad ke-19.
Semangat itulah yang kemudian dibawa Haji Emen ke Tangerang.
“Orang kampung sini pada dagang ke Pakojan Jakarta dan belajar agama di sana. Makanya, Haji Emen ingin dan berharap daerahnya berkembang seperti Pakojan di Jakarta. Di samping itu memang orang sini dulu semuanya belajarnya ke Haji Emen,” ungkap Burhanudin.
Warisan Haji Emen tidak hanya berupa nama kampung. Ia juga mendirikan masjid pertama di kawasan tersebut yang hingga kini masih berdiri dan menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat.
Di depan mimbar masjid itu pula terdapat makam Haji Emen yang dikenal masyarakat sebagai Kramat Pakojan. Hingga sekarang, lokasi tersebut masih menjadi bagian penting dari identitas sejarah Kampung Pakojan.
Keberadaan masjid dan makam itu menjadi bukti bahwa sejarah sebuah kampung tidak hanya dibangun oleh bangunan atau batas wilayah, tetapi juga oleh sosok yang memberi arah bagi kehidupan masyarakatnya.
Kini, Kampung Pakojan telah berkembang menjadi salah satu kelurahan di Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Wilayah ini berbatasan dengan Kelurahan Kunciran di sebelah timur, Kelurahan Cikokol di sebelah barat, Kelurahan Panunggangan di sebelah selatan, serta Kelurahan Poris Plawad di sebelah utara.
Meski diapit kawasan perkotaan modern dan pusat bisnis yang terus berkembang, Kampung Pakojan tetap menyimpan identitas sejarahnya. Nama yang diwariskan Haji Emen lebih dari sekadar penanda geografis, melainkan simbol cita-cita menjadikan wilayah tersebut sebagai pusat ilmu agama dan kehidupan masyarakat yang religius.
Di tengah perubahan zaman, kisah Kampung Pakojan menjadi pengingat bahwa sejarah lokal merupakan bagian penting dari identitas Kota Tangerang yang patut dikenang dan dilestarikan.
Tim Redaksi
