Beranda Lipsus Jejak Letusan Krakatau 1883 di Selat Sunda

Jejak Letusan Krakatau 1883 di Selat Sunda

Gambar Gunung Krakatau. (Sumber: BBC)

KRAKATAU tak hanya menawarkan panorama yang memanjakan mata. Di balik kerucut vulkaniknya yang menjulang di tengah Selat Sunda, tersimpan kisah kelam tentang sebuah letusan yang pernah mengguncang Nusantara dan gaungnya terdengar hingga berbagai penjuru dunia.

Pada 1883, Krakatau meletus. Dahsyatnya letusan itu kemudian diabadikan dalam berbagai catatan sejarah, salah satunya dalam buku Krakatau (1885) karya Rogier Diederik Marius Verbeek, ahli geologi dan ilmuwan alam berkebangsaan Belanda.

Kisah Krakatau sendiri tidak bermula pada 1883. Jauh sebelum itu, kesaksian para pelaut yang melintasi perairan antara Jawa dan Sumatra menyaksikan bahwa Krakatau sempat erupsi dalam skala kecil pada 1881. Erupsi itu terus meninggat hingga puncaknya di tahun 1883.

Jauh sebelum nama Krakatau identik dengan letusan dahsyat 1883, pulau vulkanik di tengah Selat Sunda itu telah menjadi penanda penting bagi para pelaut yang melintasi perairan antara Jawa dan Sumatra.

Bagi para nahkoda dan penumpang kapal layar pada masa lalu yang datang dari Eropa menuju Hindia Belanda, Krakatau penanda menjadi salah satu pemandangan awal yang menandai tibanya mereka di bumi Nusantara.

Kerucut gunungnya menjulang dari tengah laut, diapit perairan Selat Sunda yang menghubungkan Laut Jawa dengan Samudra Hindia.

Dari kejauhan, bentuk Krakatau sudah menunjukkan karakter sebuah gunung api. Lereng bagian selatannya terlihat curam, terutama di bagian atas, sementara kaki gunung tampak lebih landai. Namun, penampakan tersebut tidak membuat Krakatau dianggap sebagai ancaman.

Ilustrasi John Webber (1751-1793) dari hasil kunjungan awak HMS Discovery pada 1780 di Pulau Krakatau. (Ist)

Selama berabad-abad, Krakatau justru dipandang lanskap alam yang bersahabat. Saat itu justru dianggap sebagai gunung api yang telah padam. Di sekitarnya terdapat hutan tropis yang lebat, membuat jejak aktivitas vulkanik di dalamnya seolah telah lama berakhir. Namun, anggapan tersebut terbukti salah besar.

Jejak Api dari Abad ke-17

Lebih dari dua abad sebelum letusan besar 1883, Krakatau telah menunjukkan tanda-tanda bahwa aktivitas vulkanik masih aktif di dalamnya. Kesaksian itu datang dari Johann Wilhelm Vogel, seorang insinyur pertambangan Belanda di Salida, Sumatra (dekat Padang).

Dalam karyanya Ost-Indianische Reise Beschreibung, Vogel mencatat pengalaman pelayarannya ketika bertolak dari Salida, Sumatra Barat, menuju Batavia.

Pada 1 Februari 1681, ia melihat Krakatau dalam kondisi yang sangat berbeda dibandingkan ketika ia melintas dua tahun sebelumnya. Pulau yang sebelumnya tampak hijau dan dipenuhi pepohonan kini berubah menjadi lanskap tandus dan membara.

Vogel menuliskan keterkejutannya saat menyaksikan Pulau Cracketow—nama Krakatau dalam catatan masa itu—memuntahkan material vulkanik dari beberapa titik.

“Di sana saya menyaksikan dengan takjub bahwa Pulau Cracketow [Krakatau], yang saat perjalanan saya ke Sumatra masih tampak hijau permai dipenuhi pepohonan, kini terbentang tandus membara di hadapan mata kami, seraya memuntahkan pecahan-pecahan api besar di empat lokasi terpisah.”

Keterangan dari nakhoda kapal yang ditumpangi Vogel memperkuat kesaksian tersebut. Letusan disebut terjadi pada Mei 1680, bersamaan dengan badai besar yang menerjang kawasan tersebut.

Guncangan gempa laut kemudian disusul suara guntur yang mengerikan. Bau belerang memenuhi udara, sementara batu apung terlihat mengambang di permukaan laut.

Kesaksian lain muncul dari Elias Hesse, seorang juru tambang yang pada November 1681 juga mencatat kondisi Krakatau. Ia menyebut pulau tersebut masih menunjukkan jejak kebakaran akibat aktivitas vulkanik sekitar setahun sebelumnya dan tidak berpenghuni.

“Pulau Cracatau, yang terbakar sekitar setahun lampau, sama halnya (dengan Pulau Sebesi) tidak berpenghuni.”

Tak Tercatat di Batavia

Menariknya, aktivitas vulkanik tersebut tidak tercatat dalam arsip kolonial Batavia.

Dagregister Kasteel Batavia mencatat kedatangan kapal Aerdenburgh dari Benggala pada 12 Juni 1680. Namun, dokumen tersebut tidak memberikan keterangan mengenai letusan Krakatau yang disebut berlangsung pada periode yang sama. Informasi mengenai letusan justru lebih banyak bertahan melalui kesaksian para pelaut dan penulis perjalanan.

Ahli geologi Rogier Diederik Marius Verbeek bersama N. P. van den Berg kemudian menelaah berbagai catatan tersebut. Keduanya menyimpulkan bahwa aktivitas Krakatau pada 1680 bukan merupakan letusan berskala besar seperti yang terjadi pada 1883.

Letusan tersebut akhirnya mereda. Hembusan abu yang masih tersisa pada awal 1681 pun perlahan menghilang.
Setelah itu, Krakatau kembali diam.

Tidur Panjang Sang Raksasa

Keheningan Krakatau berlangsung sangat lama. Selama lebih dari dua abad, Krakatau kembali tertutup vegetasi dan menjalani kehidupan sebagai pulau vulkanik yang tampak tenang di tengah Selat Sunda.

Bagi para pelaut yang melintas, Krakatau kembali menjadi sekadar penanda geografis. Kerucut hijaunya berdiri di tengah laut, seolah tidak menyimpan ancaman apa pun.

Baca Juga :  Doa-Doa yang Tak Usai di Kampung Cibetus Padarincang

Namun, sejarah kemudian membuktikan bahwa diamnya gunung api tidak selalu berarti berakhirnya aktivitas vulkanik.

Pada 1883, Krakatau kembali bangun dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Letusan kali itu bukan lagi sekadar semburan api yang disaksikan beberapa pelaut dari kejauhan, melainkan salah satu bencana vulkanik paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah modern.

Rangkaian peristiwa itu mengubah wajah Krakatau dan kawasan Selat Sunda untuk selamanya.

Dari sebuah pulau hijau yang dianggap sebagai gunung api padam, Krakatau berubah menjadi kekuatan alam yang mampu mengguncang dunia.

Dua abad sebelumnya, seorang pelaut telah melihat tubuh pulau itu berubah dari hijau menjadi tandus dan membara. Kesaksian tersebut menjadi pengingat bahwa jauh sebelum ledakan besar 1883, sang raksasa sebenarnya telah memberi tanda.

Hanya saja, setelah letusan 1680 mereda, Krakatau kembali tidur. Dan manusia pun kembali merasa aman.

Krakatau Mei hingga Agustus 1883

Pagi 20 Mei 1883, Batavia kini Jakarta dan Buitenzorg kini Bogor mendadak diguncang suara gemuruh yang entah dari mana sumbernya. Sekitar pukul 10.00 hingga 11.00, suara dentuman keras terdengar dari kejauhan, menyerupai suara meriam.

Getarannya terasa hingga ke bangunan dan rumah-rumah warga. Dinding bergetar, perabotan bergoyang, sementara suasana kota berubah menjadi tegang.
Namun, pengamatan di Observatorium Batavia tidak mencatat anomali pada jarum deklinasi magnetic tanda gangguan tektonik.

Menurut catatan Rogier Diederik Marius Verbeek dalam buku Krakatau (1885), getaran yang dirasakan masyarakat saat itu bukan semata-mata gempa. Fenomena tersebut merupakan gelombang tekanan Udara. Sumber suara ternyata berasal dari Krakatau di tengah Selat Sunda.

Dari atas kapal perang Jerman Elisabeth, perubahan di cakrawala terlihat jauh lebih mengerikan. Sebuah kolom uap raksasa membubung tegak dari Krakatau hingga mencapai sekitar 11 kilometer di atas permukaan laut. Di bagian atasnya, kepulan uap berkembang melebar menyerupai kembang kol raksasa.

Abu berwarna kelabu kekuningan kemudian turun dan menutupi dek kapal.

Keesokan harinya, 21 Mei, tanda-tanda aktivitas gunung api semakin jelas. Langit berubah putih, sementara matahari terlihat memancarkan warna biru terang.

Nahkoda kapal uap Zeeland melaporkan fenomena lain. Kilatan petir muncul terus-menerus di atas Krakatau, menerangi awan hitam di sekitar puncaknya. Dentumannya terdengar bertubi-tubi, menyerupai rentetan Meriam tanpa henti.

“Gangguan bahkan merambat ke instrumen navigasi kapal. Jarum kompas dilaporkan menyimpang hingga 12 derajat,” tulis Verbeek.

Meski tanda-tanda bahaya semakin nyata, letusan Krakatau pada fase awal justru menarik perhatian warga. Rasa ingin tahu mengalahkan kekhawatiran. Kapal uap Gouverneur-Generaal Loudon kemudian membawa rombongan pelancong mendekati Krakatau pada 26–28 Mei 1883.

J. A. Schuurman, seorang insinyur pertambangan yang ikut dalam ekspedisi tersebut, melihat perubahan yang sulit dipercaya. Lereng utara Krakatau yang sebelumnya hijau telah berubah menjadi hamparan abu kelabu. Pepohonan meranggas kering dan sebagian hanya menyisakan batang di atas tanah mati.

Di kawasan Kawah Perbuatan–salah satu gunung api di sekitar Krakatau–aktivitas vulkanik berlangsung semakin agresif. Kawah dengan diameter sekitar 1.000 meter itu telah mengalami penurunan hingga sekitar 40 meter. Dari dalamnya, debu menyembur ke udara dengan ketinggian antara 1.200 hingga 3.000 meter.

Batu-batu pijar terlontar ke udara hingga mencapai ketinggian sekitar 200 meter.

Bagi mereka yang menyaksikannya dari dekat, Krakatau bukan lagi sekadar pulau hijau di tengah Selat Sunda. Gunung api itu sedang berubah menjadi pusat energi yang terus membesar.

Pada Juni 1883, aktivitas vulkanik semakin meluas. Sebuah lubang erupsi baru terbuka di lereng Gunung Danan, menambah titik keluarnya material vulkanik dari tubuh Krakatau.

Namun, belum ada yang mengetahui bahwa rangkaian letusan tersebut hanyalah permulaan.

Pada 11 Agustus 1883, Kapten Staf Umum H. J. G. Ferzenaar melakukan pengamatan terakhir dari daratan Krakatau sebelum letusan maha dahsyatnya. Dalam catatannya, titik aktivitas vulkanik telah bertambah menjadi tiga kawah utama.

Catatan-catatan itu, sebagaimana dihimpun Verbeek, memperlihatkan bahwa Krakatau tidak tiba-tiba Meletus pada akhir Agustus 1883. Selama berbulan-bulan, gunung tersebut telah memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan melalui suara gemuruh, semburan abu, petir vulkanik, perubahan lanskap, hingga munculnya kawah-kawah baru.

Tidak seorang pun pada saat itu dapat memastikan ke mana semua energi tersebut akan bermuara. Tiga bulan pertama aktivitas itu ternyata bukan puncak bencana. Ia hanyalah fajar ancaman, sebelum Krakatau memasuki fase paling dahsyat dalam sejarahnya.

Baca Juga :  Warga Dilarang Mendekat Radius 3 Kilometer dari Anak Krakatau

Selat Sunda Luluhlantak

Krakatau tidak Meletus dalam satu detik. Selama berbulan-bulan gunung api di tengah Selat Sunda itu telah menunjukkan tanda-tanda. Namun, pada 26 hingga 27 Agustus 1883, seluruh peringatan tersebut berubah menjadi bencana yang nyata.

Minggu siang, 26 Agustus 1883, suara gemuruh mulai terdengar dari kejauhan. Sekitar pukul 13.00, getarannya mulai dirasakan di Bogor. Menjelang pukul 17.00, suara ledakan yang semula terdengar sporadis berubah menjadi rentetan dentuman keras yang menggema ke berbagai wilayah Pulau Jawa.

Malam itu, warga di Jawa bagian barat nyaris tidak dapat memejamkan mata. Pintu dan jendela bergetar dihantam gelombang tekanan udara yang datang berulang kali dari arah Krakatau.

Gunung api itu sedang memasuki fase paling aktif dalam sejarahnya.

Catatan tentang bencana tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam penelitian Verbeek. Dalam catatan sejarah letusan itu, Krakatau bukan lagi sekadar gunung api yang mengeluarkan abu dan batu pijar, melainkan pusat ledakan raksasa yang mengubah atmosfer, laut, dan daratan sekaligus.

Ledakan Mengubah Siang Jadi Malam

Senin, 27 Agustus 1883, menjadi hari yang dikenang sebagai puncak kehancuran.

Sekitar pukul 06.45, ledakan keras kembali mengguncang hingga terasa di Bogor. Kap lampu terlempar dari dudukannya, sementara plester pada dinding bangunan berjatuhan.

Lukisan di The Scream. Melukiskan dampak letusan Krakatau yang mengubah langit Eropa menjadi merah. (Wiki)

Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 10.00 ledakan dahsyat mengguncang kawasan sekitar Selat Sunda dan menghasilkan kolom material vulkanik yang membubung tinggi ke atmosfer. Siang berubah menjadi gelap.

Cahaya matahari terhalang oleh material vulkanik yang memenuhi atmosfer. Suhu udara turun drastis, sementara bau belerang menyebar bersama hujan abu dan material vulkanik.

Di Batavia, dampaknya juga terasa. Gelombang tekanan udara memecahkan kaca-kaca pertokoan dan mengganggu penerangan kota.

Namun, kehancuran terbesar tidak datang dari ledakan udara. Ia datang dari laut.

Tsunami Raksasa

Rangkaian letusan dan perubahan besar pada Krakatau memicu gelombang tsunami yang menerjang pantai-pantai di sekitar Selat Sunda.

Merak menjadi salah satu wilayah yang dihantam gelombang besar. Permukiman, fasilitas pelabuhan, dan jalur kereta api luluh lantak. Gelombang laut menyeret berbagai benda berat dari daratan, sementara infrastruktur tidak mampu bertahan menghadapi kekuatan air.

Di Anyer, bencana datang berkali-kali. Gelombang tsunami menerjang kawasan pantai dan menyapu dataran rendah. Bangunan dan fasilitas yang berdiri di sepanjang pesisir hancur dalam waktu singkat. Menara suar di kawasan Anyer rata dengan tanah.

Bongkahan batu karang yang dihempaskan tsunami Krakatau 1883 hingga ke daratan Pantai Anyer. Foto diambil tahun 1885. (Foto : Troppenmuseum)

Sejumlah pejabat pemerintahan kolonial yang berada di wilayah tersebut juga menjadi korban. Asisten Residen Buys bersama sejumlah pejabat pamong praja dilaporkan tewas tersapu gelombang. Dari Anyer, kehancuran menjalar ke Caringin.

Kawasan permukiman di dataran rendah tersebut dihantam gelombang laut yang membawa material dalam jumlah besar. Air laut menerobos jauh ke daratan hingga mendekati kawasan perbukitan. Korban jiwa berjatuhan dalam jumlah besar.

Lampung Tak Luput dari Amukan

Di sisi lain Selat Sunda, wilayah Lampung juga menghadapi kehancuran serupa.

Teluk Betung dan Ketimbang dilanda kegelapan, hujan abu, serta gelombang laut yang menerjang kawasan pesisir. Penduduk yang berusaha menyelamatkan diri harus menghadapi kondisi yang sangat sulit karena abu vulkanik memenuhi udara.

Salah satu kisah paling mencengangkan terjadi pada kapal uap pemerintah Berouw. Kapal tersebut terseret oleh gelombang tsunami hingga jauh ke daratan.

Syair Lampung Karam. Syair yang ditulis menggambarkan dampak tsunami hebat yang menghancurkan pesisir Lampung. (Foto : google.com)

Benda yang seharusnya hanya berada di laut itu akhirnya terdampar sekitar 3,5 kilometer dari garis pantai, menjadi bukti betapa jauh dan kuatnya daya dorong gelombang yang menerjang Teluk Lampung.

Jalur pelayaran pun terganggu. Batu apung dari letusan Krakatau menyebar di perairan Selat Sunda dalam jumlah besar dan menghambat navigasi kapal.

Namun, salah satu tragedi paling menyayat terjadi di Pulau Sebesi.

Pulau yang berada relatif dekat dengan Krakatau itu dihantam gelombang laut yang menyapu seluruh daratan. Permukiman penduduk lenyap bersama kehidupan yang selama ini berlangsung di pulau tersebut.

Tidak ada seorang pun yang dilaporkan selamat dari seluruh populasi Pulau Sebesi yang saat itu diperkirakan mencapai sekitar 3.000 jiwa.

Krakatau Tak Lagi Sama

Dalam hitungan jam, Krakatau mengubah wajah Selat Sunda.

Gunung yang sebelumnya menjadi tengara bagi kapal-kapal yang melintas antara Jawa dan Sumatra itu mengalami kehancuran besar. Sebagian tubuhnya runtuh dan kawasan di sekitarnya berubah menjadi medan bencana.

Baca Juga :  KM Mutiara Persada III Alami Gangguan Mesin di Selat Sunda, Penumpang Terjebak di Tengah Laut

Bagi Verbeek, rangkaian peristiwa tersebut bukan sekadar catatan letusan gunung api. Ia merupakan peristiwa geologi yang memperlihatkan bagaimana aktivitas vulkanik dapat memicu rangkaian bencana sekaligus—ledakan, hujan abu, gelombang tekanan Udara dan tsunami.

Krakatau telah memberikan tanda-tanda selama berbulan-bulan. Tetapi ketika klimaks itu tiba pada 26–27 Agustus 1883, manusia di sekelilingnya tidak lagi berhadapan dengan sekadar gunung yang sedang meletus.

Mereka berhadapan dengan sebuah kekuatan alam yang mampu mengubah daratan menjadi lautan, siang menjadi malam, dan sebuah pulau menjadi bagian dari sejarah bencana dunia.

Akibat Bencana

Setelah suara ledakan Krakatau mereda, kehancuran yang ditinggalkannya baru benar-benar terlihat. Permukiman di sepanjang pesisir Selat Sunda berubah menjadi hamparan puing, sementara ribuan orang kehilangan nyawa dalam bencana yang mengguncang Jawa dan Sumatra pada Agustus 1883.

Verbeek kemudian menelusuri jejak kehancuran tersebut dalam monografinya yang diterbitkan pada 1885. Berdasarkan penyelidikan pemerintah kolonial, ia mencatat jumlah korban dan kerusakan permukiman di berbagai wilayah yang terdampak letusan serta tsunami Krakatau.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa korban jiwa tersebar di sejumlah wilayah. Di di Lampung, Kawasan Teluk Betung, Ketimbang, Semangka, dan sejumlah wilayah lain kehilangan ribuan penduduk. Dalam catatan resmi yang dihimpun Verbeek, korban mencapai 12.466 orang, termasuk lima warga Eropa.

Di seberang Selat Sunda, Banten menjadi salah satu wilayah dengan jumlah korban terbesar. Anyer, Caringin, Merak, hingga sejumlah kawasan di sekitar Serang diterjang gelombang tsunami dan material letusan.

Sebanyak 21.565 orang tercatat menjadi korban di wilayah tersebut, terdiri atas 32 warga Eropa dan 21.533 penduduk pribumi, Tionghoa, serta kelompok Timur Asing. Puluhan kampung hancur dan sebagian lainnya mengalami kerusakan berat.

Dampak bencana bahkan terasa hingga wilayah yang lebih jauh dari pusat letusan. Di kawasan Batavia, termasuk Tangerang, Kepulauan Seribu, dan Meester-Cornelis, sebanyak 2.350 orang tercatat menjadi korban.

Sementara itu, di pesisir Krawang, dua orang meninggal dan beberapa kampung mengalami kerusakan.

Jika seluruh catatan tersebut dihimpun, jumlah korban jiwa yang tercatat secara resmi mencapai 36.417 orang. Mayoritas korban meninggal akibat terjangan tsunami yang menyapu permukiman pesisir, sedangkan sebagian lainnya menjadi korban material vulkanik panas yang dilepaskan Krakatau.

Angka tersebut menjadi salah satu catatan paling mengerikan dari bencana Krakatau. Namun, bagi para penyelidik yang datang setelah bencana, jumlah korban hanyalah sebagian dari gambaran kehancuran yang mereka temukan.

Ratusan kampung telah lenyap

Sebanyak 165 kampung tercatat hancur seluruhnya, sementara 132 kampung lainnya mengalami kerusakan sebagian. Jejak permukiman yang sebelumnya dihuni manusia berubah menjadi puing dan tanah yang tertutup material vulkanik.

Pada pagi 28 Agustus 1883, ketika kegelapan akibat letusan perlahan mulai tersibak, pemandangan di Selat Sunda menunjukkan bahwa bencana tersebut bukan sekadar kehancuran permukiman.

Bagian besar tubuh pulau di sebelah utara amblas ke dalam rongga bumi. Perubahan itu membentuk sebuah kaldera bawah laut yang sangat luas dan dalam.

Gunung Perbuatan dan Gunung Danan musnah. Sebagian besar tubuh Puncak Rakata juga hilang. Pulau karang Poolsche Hoed turut lenyap ditelan laut.

Sebaliknya, Pulau Verlaten dan Pulau Lang mengalami perubahan bentuk dan luas akibat material vulkanik yang menumpuk di sekitarnya.

Pemandangan tersebut memperlihatkan betapa besar energi yang dilepaskan Krakatau. Pulau yang selama berabad-abad menjadi penanda bagi para pelaut di Selat Sunda kini telah berubah menjadi lanskap yang sama sekali berbeda.

Krakatau Belum Sepenuhnya Diam 

Aktivitas vulkanik masih terpantau beberapa bulan setelah letusan utama. Letusan freatik kecil kembali muncul secara sporadis pada Oktober 1883 dan Februari 1884.

Setelah itu, amukan besar Krakatau benar-benar berakhir.

Yang tersisa adalah kaldera raksasa di bawah laut, pulau-pulau yang berubah bentuk, garis pantai yang porak-poranda, dan ribuan makam tanpa nisan.

Catatan Verbeek kemudian menjadi salah satu dokumentasi penting untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada Agustus 1883. Dari kesaksian, pengamatan lapangan, hingga catatan korban dan kerusakan, ia merekam sebuah bencana yang tidak hanya mengubah wajah Selat Sunda, tetapi juga meninggalkan jejak penting dalam sejarah ilmu pengetahuan.

Lahirnya Anak Krakatau 

Tetapi kisahnya belum selesai. Di atas sisa-sisa kaldera yang terbentuk setelah kehancuran itu, aktivitas vulkanik kelak kembali menciptakan sebuah gunung baru—sebuah anak dari Krakatau.

Tim Redaksi