
TANGERANG – Di balik riuh lalu lintas dan padatnya permukiman di jantung Kota Tangerang, Kampung Gerendeng menyimpan kisah panjang yang tak banyak diketahui masyarakat. Nama kampung yang kini identik dengan kawasan perkotaan dan Jembatan Kaca Berendeng itu dipercaya telah ada sejak awal berdirinya Tangerang, jauh sebelum masa kolonial Belanda menguasai wilayah tersebut.
Dalam buku Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang, Burhanudin menuliskan bahwa keberadaan Kampung Gerendeng dapat ditelusuri hingga sekitar tahun 1407. Kampung ini menjadi salah satu kawasan tua yang menyimpan jejak sejarah perkembangan Kota Tangerang.
Asal-usul nama “Gerendeng” sendiri lahir dari cerita tutur yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat. Konon, kawasan tersebut pernah menjadi garis pertahanan para prajurit Priyangan yang berjuang menghadapi serangan musuh.
Kala itu, bambu-bambu disusun rapat membentuk benteng sederhana yang dikenal sebagai “pagar endeng”. Seiring perjalanan waktu dan perubahan pelafalan dalam bahasa masyarakat Sunda, istilah tersebut kemudian berubah menjadi “Gerendeng”.
“Di sini dulu tempatnya pagar pertahanan prajurit Priyangan dari serangan, dari keberadaan pagar endeng berasal, orang Sunda menyingkatkan menjadi Gerendeng,” tulis Burhanudin dalam bukunya.
Meski kebenarannya lebih banyak bersumber dari tradisi lisan, kisah tersebut menjadi bagian penting dari identitas masyarakat setempat. Nama Gerendeng bukan sekadar penanda wilayah, melainkan pengingat akan semangat perjuangan yang pernah tumbuh di tepian Sungai Cisadane.
Seiring perkembangan zaman, wajah Kampung Gerendeng berubah drastis. Kawasan yang dahulu dikenal sebagai benteng pertahanan kini menjelma menjadi salah satu permukiman terpadat di Kota Tangerang.
Masyarakat mengenal dua kawasan yang masih menggunakan nama tersebut, yakni Gerendeng yang berada di bantaran Sungai Cisadane dan Gerendeng Tegal yang terletak di sebelah barat Jalan Otista Karawaci.
Perubahan itu juga membawa warna baru bagi kehidupan sosial masyarakatnya. Berbagai suku, budaya, dan latar belakang kini hidup berdampingan, menjadikan Gerendeng sebagai miniatur keberagaman Kota Tangerang.
“Gerendeng hari ini berbeda dengan Gerendeng masa lalu, kini seluruh elemen masyarakat sudah membaur, bahkan antara pendatang dan pribumi sudah banyak yang kawin sehingga Gerendeng menjadi salah satu kawasan multikultural simbol keberagaman di Kota Tangerang,” lanjut Burhanudin.
Di tengah denyut kehidupan modern, kawasan ini juga memiliki ikon wisata yang menjadi kebanggaan warga, yakni Jembatan Kaca Berendeng. Jembatan yang membentang di atas Sungai Cisadane tersebut menghubungkan wilayah barat dan timur Kota Tangerang sekaligus menjadi salah satu pusat kegiatan Festival Cisadane yang rutin digelar setiap tahun.
Gerendeng pun menjadi bukti bahwa sebuah nama kampung mampu menyimpan perjalanan sejarah berabad-abad. Dari benteng bambu sederhana yang diyakini menjadi pagar pertahanan, hingga kini menjadi kawasan multikultural yang terus tumbuh bersama perkembangan Kota Tangerang, Gerendeng tetap menjaga kisah masa lalu agar tidak hilang ditelan zaman.
Tim Redaksi