Beranda Budaya Jaro Warga Serahkan Laksa kepada Gubernur dalam Puncak Seba Baduy 2026

Jaro Warga Serahkan Laksa kepada Gubernur dalam Puncak Seba Baduy 2026

Jaro Warga saat menyerahkan laksa kepada Gubernur Banten

SERANG — Jaro Warga menyerahkan laksa kepada Gubernur Banten, Andra Soni, yang disebut sebagai “Bapak Gede”, dalam puncak perayaan Seba Baduy 2026 di Gedung Negara Provinsi Banten, Serang, Sabtu (25/4/2026) malam.

Penyerahan laksa tersebut merupakan bagian dari prosesi sakral yang menandai amanat masyarakat adat Baduy kepada Pemerintah Provinsi Banten, sekaligus simbol rasa syukur atas hasil bumi.

Prosesi ini turut disaksikan perwakilan kedutaan besar dari berbagai negara serta ribuan masyarakat yang memadati kawasan Gedung Negara Provinsi Banten.

Laksa yang diserahkan merupakan hasil dari rangkaian panjang ritual adat masyarakat Baduy. Prosesnya diawali dengan Kawalu, yakni masa puasa adat selama tiga bulan yang dijalani sebagai laku spiritual sekaligus upaya menjaga keseimbangan alam.

Setelah Kawalu, masyarakat melaksanakan tahapan ngalaksa, yaitu proses pembuatan laksa secara gotong royong. Padi hasil panen yang telah disucikan dikumpulkan dari setiap keluarga, kemudian diolah menjadi tepung beras secara tradisional tanpa menggunakan peralatan modern.

Laksa Baduy memiliki bentuk khas, dibungkus menggunakan bahan alami dari daun patat dengan lapisan luar daun pinang. Hal ini mencerminkan kesederhanaan sekaligus kedekatan masyarakat Baduy dengan alam.

Gubernur Andra Soni menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Baduy dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai leluhur.

“Penyerahan laksa ini bukan sekadar seremoni, tetapi amanat yang harus dijaga bersama,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Banten berkomitmen untuk terus menjaga, melindungi, dan melestarikan adat istiadat masyarakat Baduy sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.

“Nilai-nilai dalam tradisi ini mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam,” tambahnya.

Seba Baduy merupakan tradisi tahunan masyarakat adat sebagai bentuk silaturahmi sekaligus penyampaian pesan moral kepada pemerintah. Laksa yang diserahkan menjadi simbol rasa syukur, ketaatan, serta hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Baca Juga :  Golok Ciomas: Warisan Budaya Khas Banten dengan Nilai Sejarah dan Keagamaan

Puncak Seba Baduy 2026 juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara masyarakat adat, pemerintah, dan masyarakat luas, termasuk komunitas internasional yang turut menyaksikan tradisi tersebut.

Penulis: Audindra Kusuma
Editor: Usman Temposo