LEBAK — Pagi itu membawa kabar duka dari tanah adat Kanekes. Jaro Tanggungan 12 Saidi Putra mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 08.00 WIB, Jumat (4/9/2026).
Kabar tersebut segera menyebar di tengah masyarakat adat Baduy. Saidi Putra bukan sekadar nama dalam struktur pemerintahan adat.
Ia menjalankan peran sebagai Jaro Tanggungan 12, salah satu posisi penting dalam kehidupan masyarakat Baduy. Selama menjalankan tugasnya, ia ikut menjaga hubungan komunitas adat dengan masyarakat dan pihak-pihak dari luar kawasan Baduy.
Kepala Desa Kanekes, Oom, membenarkan kabar kepergian Saidi Putra.
“Benar kang, beliau meninggal kemarin sekira pukul 08.00 WIB,” kata Oom saat dihubungi, Sabtu (5/9/2026).
Sakit menjadi penyebab kepergian Saidi Putra. Keluarga dan masyarakat adat kemudian mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhir.
“Beliau meninggal karena sakit, dan sudah dimakamkan,” ujar Oom.
Kepergian Saidi Putra meninggalkan duka sekaligus kehilangan bagi masyarakat Baduy. Sosok yang selama ini menjalankan peran dalam struktur adat itu kini tidak lagi berada di tengah komunitas.
Di tengah kuatnya aturan adat dan tradisi yang terus mereka jaga, masyarakat Baduy tetap menghadapi siklus kehidupan yang sama seperti masyarakat lainnya yaitu, kelahiran, perjumpaan, perpisahan, hingga kehilangan.
Bagi masyarakat Baduy, posisi seorang jaro memiliki arti penting dalam menjaga tata kehidupan adat.
Karena itu, kepergian Saidi Putra tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga, tetapi juga meninggalkan kehilangan bagi komunitas yang selama ini mengenalnya.
Kini, tanah Kanekes melanjutkan hari-harinya tanpa Saidi Putra. Namanya tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya dan dalam perjalanan kehidupan adat Baduy yang terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Penulis : Sandi Sudrajat
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
