Beranda Peristiwa Jalan Rusak, Ibu Hamil di Pandeglang Ditandu Pakai Sarung Terjatuh, Bayi Kembarnya...

Jalan Rusak, Ibu Hamil di Pandeglang Ditandu Pakai Sarung Terjatuh, Bayi Kembarnya Meninggal

206
0
Enah (30) terpaksa ditandu karena akses jalan rusak - foto istimewa

PANDEGLANG – Seorang ibu hamil bernama Enah (30) warga Kampung Kadugedong, Desa Sindangresmi, Kecamatan Sindangresmi, Kabupaten Pandeglang terpaksa ditandu menuju Puskesmas karena akses jalan rusak dan sulit dilalui kendaraan.

Parahnya lagi, saat ditandu oleh warga menyusuri jalan setapak sepanjang 4 kilometer sang ibu terjatuh karena kain yang digunakan tidak mampu menahan beban dan robek. Alhasil bayi kembar dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan.

Kejadian warga miskin ditandu karena akses jalan rusak bukan hanya kali ini saja terjadi, belum lama ini warga Kampung Lebak Jaha, Desa Karangbolong, Kecamatan Cigeulis, Pandeglang juga terpaksa ditandu ke Puskesmas lantaran jalan yang sulit dilalui kendaraan.

Menanggapi ibu hamil yang ditandu warga, Kepala Puskesmas Sindangresmi, Hamdan mengamini bahwa pihaknya menerima pasien atas nama Enah. Namun sayang bayi kembar yng dikandungnya tidak dapat tertolong.

“Iya, pasien yang mau melahirkan itu ditandu warga. Tapi setelah lahir, kedua anak kembar (Anak Enah) meninggal dunia,” jelas Hamdan kepada wartawan, Senin (3/4/2021).

Menurut Hamdan, kematian bayi kembar tersebut kemungkinan karena terlambat mendapatkan pertolongan dari petugas kesehatan lantaran perjalanan jauh yang harus ditempuh. Ditambah lagi dengan usia kandungan yang baru menginjak 6 bulan menjadi penyebab lain.

“Namun memang dibarengi dengan faktor lain juga, soalnya pasien itu termasuk memiliki risiko tinggi. Ditambah usia kehamilannya itu baru 6 bulan jalan,” jelasnya.

Kata dia, kedua bayi kembar dari pasien itu meninggal di dalam kandungan, namun proses persalinan berjalan normal tidak harus dilakukan operasi cesar. Saat ini ibu hamil tersebut sudah dibawa pulang dengan kondisi baik.

“Meninggalnya saat di dalam kandungan dan lahir prematur, karena usia kehamilan baru berjalan 6 bulan,” katanya.

Sementara itu, akun Instagram resmi milik Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang menilai pemberitaan tentang ibu hamil yang ditandu tidak harus di besar-besarkan bahkan seharusnya diapresiasi karena hal tersebut sebagai budaya gotong royong dari masyarakat dan harus diapresiasi oleh semua pihak.

“Pemberitaan yang buruk merupakan berita yang baik, itu mungkin pemikiran berita sekarang ini, akan tetapi pemberitaan yang bukan dari sumber dan ahlinya akan menjadikan berita itu berlebihan tidak berdasarkan data dan fakta. Seperti pada photo ini, akan menjadi persepsi yang berbeda tergantung sudut pandang kita,” tulis admin dalam postingannya.

“Kami sangat mengapresiasi kesiapan dan kesiagaan masyarakat desa untuk membantu ibu ini dalam menangani permasalahan kesehatan (kehamilan),” sambungnya.

Admin melanjutkan, untuk membangun status kesehatan masyarakat itu tidak dapat diselesaikan oleh hanya satu instansi saja. Akan tetapi oleh semua lintas sektor, dan yang sangat menentukan itu adalah peran dari masyarakatnya sendiri.

“Salam foto ini terlihat masyarakat turut membantu sesama warganya dalam proses kelahiran, walaupun Allah Subhana wa taala berhendak lain, dimana bayi dari ibu tersebut lahir dalam keadaan tidak bernyawa. Kami turut berduka atas kejadian ini, mudah2an kejadian seperti ini tidak terulang dan menjadi pembelajaran kita semua,” ucapnya.

Terakhir admin mengimbau kepada semua untuk tidak memperkeruh suasana dan tidak saling menyalahkan serta mengedepankan hal-hal yang positif.

“Dalam kondisi yang terbatas dalam membangun daerah kita (Pandeglang) kita semua harus berperan dalam bidang keahlian masing-masing, dengan budaya gotong royong seperti foto ini, semoga kita semua dapat memajukan daerah yang kita cintai ini, tanah kelahiran kita tanah nenek moyang kita KABUPATEN PANDEGLANG,” tutupnya.

(Med/Red)