Beranda Akademi ITB Buat Sabun Pembersih Najis dari Tanah Liat

ITB Buat Sabun Pembersih Najis dari Tanah Liat

Sabun pencuci najis. (Dok. ITB)

BANDUNG – Jika sabun pada umumnya membunuh bakteri dan virus, tapi lain dengan sabun pencuci hasil inovasi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berhasil membuat sabun pembersih najis dari tanah liat.

Najis adalah benda atau barang yang jika bersentuhan atau terpapar bisa membatalkan umat islam untuk ibadah salat hingga membaca alquran.

Produk ini adalah inovasi yang berhasil diluncurkan Pusat Penelitian Nanosains dan Nanoteknologi atau PPNN ITB bekerjasama dengan Rumah Inovasi Natura.

Ini adalah produk sabun tanah anti najis yang diberi nama Natura, yang secara resmi dirilis di Gedung Pusat Penelitian Nanosains dan Nanoteknologi ITB, Selasa, 19 Maret 2022 lalu.

Direktur PPNN ITB, Prof. Dr. Heni Rachmawati menjelaskan bahwa produk ini dibuat agar lebih mudah membersihkan najis pada tubuh dan pakaian seseorang dari najis.

Dalam produk ini terkandung zat kaolin, yaitu bahan tanah liat asli Indonesia dan dapat dicampurkan pada sabun untuk mensucikan najis.

Selain mengandung unsur tanah kaolin 20 persen, produk ini juga mengandung nanoemulsi Vitamin E yang berperan menutrisi dan melembapkan kulit, yang aman dan bisa digunakan untuk semua jenis kulit, tidak meninggalkan residu serta ramah lingkungan, dan telah tersertifikasi halal MUI dan berizin edar BPOM RI.

“Sebagai dosen dan juga peneliti, kami dari ITB memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan penelitian tersebut. Ini adalah hasil riset kami selama kurang lebih 6 bulan, karena perlu waktu untuk optimasi formula dan uji stabilitas,” ujar Prof. Heni melalui keterangan yang diterima suara.com (Jaringan BantenNews.co.id), Rabu (30/3/2022).

Dalam proses pembuatannya, didasarkan pada hasil penelitian optimasi, pengecekan parameter, penyesuaian standar pembuatan sabun, pengukuran efektivitasnya dengan uji mikroba, hingga karakterisasi material.

Dia menjelaskan, tantangan membuat sabun ini yaitu kandungan nanoemulsi dan partikel yang harus tersuspensi. Dibanding pembuatan sabun biasa yang lebih mudah, sabun ini memerlukan komponen nanoemulsi dari vitamin E.

“Bahan-bahan ini harus diperhatikan kompatibilitasnya dan kebersatuan komponen dalam sabunnya. Karena sabun ini memiliki PH yang tinggi maka kami buat PH yang aman untuk kulit antara 5 hingga 6,5,” jelas Prof. Heni.

Adapun untuk harga produk ini dibandrol dengan Rp 25 ribu untuk setiap 100 ml-nya. (Red)