
PANDEGLANG — Penemuan jenazah Surakman (60), ABK Kapal Arupadhatu I, kembali membuka harapan keluarga korban yang masih hilang.
Evi, istri pemandu wisata Heriyanto, mendesak Basarnas membuka kembali operasi pencarian lima jurnalis, suaminya, dan korban lain yang masih belum ditemukan.
Evi menilai, lokasi penemuan Surakman di sekitar Pulau Enggano, Bengkulu, dapat menjadi petunjuk penting untuk menentukan arah pencarian berikutnya.
“Apapun keadaannya, yang penting semua yang terhubung di kapal itu ditemukan. Dengan ditemukannya Pak Surakman di perairan Tunggulu, menurut saya ini sudah menjadi titik terang,” kata Evi, Jumat (25/9/2026).
Evi meminta Basarnas tidak mengabaikan temuan tersebut. Ia berharap tim SAR kembali menyisir kawasan Pulau Enggano dan perairan Tunggulu yang menurutnya memiliki keterkaitan dengan lokasi penemuan Surakman.
“Saya berharap pencarian oleh Basarnas kembali dilanjutkan dan dilakukan semaksimal mungkin di area sekitar Tunggulu dan Pulau Enggano,” ujarnya.
Bagi keluarga korban, pencarian bukan sekadar menemukan jasad. Mereka membutuhkan kepastian tentang nasib orang-orang yang hilang setelah Arupadhatu I kehilangan kontak di perairan Selat Sunda pada awal September 2026.
“Harapannya semoga semuanya cepat pulang. Kalau memang belum ditemukan, kami tetap berdoa semoga ada kabar dan ada kepastian,” ucap Evi.
Evi juga meminta tim SAR kembali melibatkan nelayan dalam pencarian. Menurutnya, nelayan memiliki pengalaman membaca kondisi laut dan arah arus di sekitar Pulau Enggano hingga kawasan yang mengarah ke Samudra Hindia.
“Kami berharap nelayan juga ikut membantu pencarian, terutama di sekitar Pulau Enggano sampai arah Samudra Hindia. Area itu perlu terus ditelusuri,” katanya.
Evi mengaku, pihak keluarga sebelumnya sudah menyampaikan usulan agar pencarian mengarah ke kawasan tersebut. Penemuan Surakman kini membuat keluarga kembali mendorong tim SAR menelusuri wilayah itu secara lebih luas.
Sebelumnya, tim SAR menghentikan operasi pencarian Arupadhatu I setelah melakukan penyisiran selama lebih dari dua pekan. Saat itu, Surakman dan tujuh orang lainnya masih hilang.
Penemuan Surakman di kawasan Pulau Enggano menjadi satu-satunya titik terang baru dalam kasus tersebut. Lima jurnalis, Heriyanto sebagai pemandu, dan kapten kapal hingga kini masih belum ditemukan.
Keluarga berharap temuan pertama itu tidak menjadi akhir pencarian. Mereka meminta Basarnas menjadikan lokasi penemuan Surakman sebagai petunjuk untuk kembali menelusuri jejak korban lainnya.
Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd