JAKARTA – Harga minyak mentah merangkak naik pada perdagangan Rabu 17 Juni, memangkas sebagian kerugian besar dari sesi sebelumnya.
Pergerakan ini dipicu oleh sikap hati-hati investor dalam menilai kepastian berakhirnya perang Iran serta realisasi pembukaan kembali Selat Hormuz.
Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent naik 47 sen atau 0,6 persen ke level 79,43 dolar AS per barel pada pukul 00.38 GMT (07.38 WIB).
Sejalan dengan itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 48 sen atau 0,6 persen menjadi 76,53 dolar AS per barel.
Sebelumnya pada perdagangan Selasa, kedua instrumen acuan tersebut sempat anjlok hingga 5 persen selama dua sesi berturut-turut ke level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Pelemahan itu didorong oleh ekspektasi bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran akan memulihkan kembali arus lalu lintas minyak mentah melalui Selat Hormuz.
“Pasar minyak sempat melemah karena ekspektasi pembukaan kembali Selat Hormuz pasca-kesepakatan damai. Namun, para pelaku pasar menahan aksi jual lebih lanjut sembari menunggu detail kesepakatan tersebut,” ujar Hiroyuki Kikukawa, Kepala Strategi Nissan Securities Investment.
Ia memproyeksikan harga WTI masih akan berfluktuasi di kisaran 10 dolar AS di atas atau di bawah 80 dolar AS per barel.
Rincian mengenai draf kesepakatan damai sementara mulai terungkap pada Selasa kemarin.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa perjanjian tersebut akan menutup ruang bagi Teheran untuk mengembangkan senjata nuklir.
Di sisi lain, pejabat AS membisikkan bahwa Iran akan langsung diizinkan menjual minyaknya setelah nota kesepahaman (MoU) resmi ditandatangani.
Meski teks MoU belum dipublikasikan, dokumen tersebut kabarnya memperpanjang masa gencatan senjata yang sempat diumumkan pada April lalu hingga 60 hari ke depan, guna memberikan ruang bagi negosiasi perdamaian permanen.
Berdasarkan kesepakatan ini, AS berkomitmen mencabut blokade di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sebagai imbalannya, Teheran wajib menjamin keamanan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, yang praktis tersumbat sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Namun, pelaku industri memperkirakan pemulihan penuh produksi dan kilang minyak ke level sebelum perang akan memakan waktu mingguan, bulanan, bahkan tahunan.
Sumber : suara.com
