Beranda Peristiwa Ini Salah Satu Faktor JSS dan Perhotelan Tidak Boleh Dibangun Dekat Pantai...

Ini Salah Satu Faktor JSS dan Perhotelan Tidak Boleh Dibangun Dekat Pantai di Banten

607
0
Kendaraan menghantam rumah setelah diterjang tsunami di Cinangka, Serang, Banten. (Qizink/bantennews)

SERANG – Wacana mengenai pembangunan Jembatan Selatan Sunda (JSS) seolah tidak pernah terdengar lagi. Megaproyek yang bertujuan menyambungkan antara Pulau Sumatera dan Jawa tersebut dinilai sangat berisiko gagal dan membahayakan keselamatan manusia.

Salah satu kajian yang menyangsikan pembangunan megaproyek jembatan sepanjang 26 kilometer 70 meter di atas permukaan laut tersebut karena berjarak hanya 40 kilometer dari Gunung Anak Krakatau. Gunung berapi yang tumbuh dari kaldera Gunung Krakatau yang meletus 1883 tersebut, aktif dan tumbuh sejak 1928 silam.

“Proyek ini menghadapi banyak tantangan. Beberapa jembatan akan rusak akibat tsunami yang melintasi Selat Sunda, oleh karena itu bahaya seperti itu perlu dikuantifikasi,” tulis Giachetti, dkk dalam tulisan berjudul Tsunami hazard related to a flank collapse of Anak Krakatau Volcano, Sunda Strait, Indonesia yang dipublikasi 2012 silam.

Dalam kajian yang sama, Giachetti juga menyoroti mengenai potensi tsunami akibat Gunung Anak Krakatau di sepanjang kawasan Merak hingga Labuan.

“Gelombang ini akan berpotensi berbahaya bagi banyak orang perahu wisata kecil yang beredar di, dan di sekitar, Kepulauan Krakatau. Maka gelombang akan merambat secara radial dari daerah yang terkena dampak dan melintasi Selat Sunda,” tulis Giachetti.

Tsunami akan mencapai kota-kota, jelas dia, ke pantai di wilayah barat pulau Jawa seperti Merak, Anyer dan Carita. “35–45 menit setelah permulaan keruntuhan (lereng Gunung Anak Krakatau), dengan maksimum amplitudo dari 1,5 (Merak dan Panimbang) menjadi 3,4 m (Labuhan),” kata dia.

Hasil penelitian itu, senada dengan pendapat Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang meminta Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (DPSKP) mengkaji ulang perizinan hotel di wilayah pesisir.

Menurut dia, banyaknya hotel di pinggir pantai dapat membahayakan tamu dan pegawai hotel jika bencana seperti tsunami datang.

“Saya lihat hotel-hotel yang dipinggir nanti saya akan minta DPKSP untuk menertibkan izin-izin perhotelan seperti itu dengan tentunya (berkoordinasi dengan Kementerian) Pariwisata,” kata Susi dalam perjalanan udara dari Jakarta ke wilayah pesisir terdampak tsunami di Banten, Senin (24/12/2018).

Menteri sekaligus pengusaha ini heran banyak bangunan hotel hasil reklamasi pantai di sepanjang pesisir Anyer. “Kenapa mereka bisa membangun itu, mereklamasi pantai. Begitu ada tsunami begini kan hancur total,” ujarnya. (you/red)