Beranda Kesehatan Ini Kesalahan Pakai Vape Sehingga Berbahaya Bagi Penggunanya

Ini Kesalahan Pakai Vape Sehingga Berbahaya Bagi Penggunanya

447
0
(foto: nulis.co.id)

Sejak kemunculannya, vape dianggap sebagai alternatif bagi perokok yang ingin berhenti mengisap tembakau.

Namun, beberapa waktu lalu dunia dihebohkan dengan kasus kematian sejumlah orang di Amerika Serikat akibat penyakit paru misterius yang dikaitkan dengan vape.

Minyak THC (Tetrahydrocannabinol), salah satu kandungan ganja, terdapat di dalam vape yang mereka gunakan.

Vape atau tembakau alternatif oleh pemakainya diklaim lebih aman dari rokok konvensional. Kesalahan-kesalahan seperti mencampurkan ganja atau bahan narkotika ke dalam cairan vape, akhirnya membuat vape jadi berbahaya.

Kesalahan lain yang kerap dilakukan pengguna vape adalah tidak merawat peranti yang digunakan. Beberapa bagian harus rutin dibersihkan atau bahkan diganti, karena bisa membahayakan bila dibiarkan kotor.

“Kalau dari kawat itu kan ada bahan-bahan yang kebakar, yang dipanasin, itu bahaya kalau kita enggak ganti,” ujar Fidar Wiguna, pengguna vape asal Bogor dilansir detik.com.

Agar aman, Fidar menyarankan untuk memakai kawat berbahan stainless, kantal, nikel, dan lainnya dan harus rajin dibersihkan. Secuil kapas yang terdapat di bagian penghisap juga harus diganti setiap hari. Sebab selain bisa menyebabkan radang tenggorokan, hal itu juga mengurangi rasa nyaman saat menggunakannya.

“Tiap hari diganti ya kapas, dan kawat dibersihin. Kapas kalau sehari enggak ganti, rasanya udah beda. Ngaruh di rasa juga,” imbuh Fidar.

Terkait dengan kasus kematian akibat vape, Fidar yang sudah tiga tahun menggunakan vape ini tak merasa khawatir. Pasalnya selama ini dia tak pernah merasakan masalah kesehatan.

Terpisah, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), FAPSR, FISR menyebut anggapan bahwa vape aman adalah menyesatkan. Menurutnya, vape sama seperti rokok konvensional yang melepaskan bahan-bahan iritatif ke saluran pernapasan.

“Ini meningkatkan risiko asma, infeksi saluran pernapasan akut seperti tuberculosis (TBC) dan pneumonia,” jelas dr Agus.

(Red)