Beranda Peristiwa Ini Alasan Mengapa Gempa Sering Terjadi di Sumur Pandeglang

Ini Alasan Mengapa Gempa Sering Terjadi di Sumur Pandeglang

Titik lokasi gempa.

PANDEGLANG – Gempa dengan magnitudo 6,7 yang berpusat di Sumur, Kabupaten Pandeglang dan guncangannya dapat dirasakan hingga Jawa Barat pada Jumat (14/1/2022) lalu menyisakan pertanyaan di sejumlah masyarakat. Pasalnya pasca gempa yang tidak berpotensi tsunami itu juga kerap terjadi gempa susulan yang berpusat di lokasi yang sama dengan skala yang lebih kecil.

Dikutip BantenNews.co.id pada Senin (17/1/2022) dari unggahan Instagram Story di akun resmi Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah II (BBMKG Wilayah II), pihaknya menjawab pertanyaan dari salah satu warganet terkait penyebab mengapa seringkali terjadi gempa di wilayah Sumur, Kabupaten Pandeglang.

“Hal ini salah satunya dapat diakibatkan oleh posisi wilayah Banten dan sekitarnya yang merupakan jalur subduksi (pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia). Selain itu, wilayah ini juga zona megathrust karena gempa-gempa yang terjadi memiliki kedalaman relatif dangkal dengan mekanisme patahan naik,” jelas akun @bmkgwilayah2 yang merupakan sebagai penyedia informasi cuaca, iklim, dan gempabumi wilayah Provinsi Banten.

Terkait zona megathrust, dijelaskan BBMKG Wilayah II bahwa zona tersebut merupakan zona jalur lempeng bersubduksi secara panjang. Zona ini terbentuk ketika lempeng samudra bergerak ke bawah menunjam lempeng benua sehingga menyebabkan terjadinya gempa bumi.

Kendati demikian, gempa yang terjadi di wilayah Banten dan sekitarnya bukanlah akibat letusan gunung api di wilayah Tonga pada 15 Januari 2022 lalu.

Sesar atau patahan aktif yang mengelilingi Banten juga menjadikan wilayah ini rawan terjadinya gempa bumi. “Sesar aktif di wilayah Banten yaitu Sesar Bayah, Sesar Ujung Kulon (di Pesisir Selatan Banten) dan Sesar Semangko-Graben (di Selat Sunda). Semuanya aktif jadi memang harus waspada,” katanya.

Sedangkan mengapa kerap kali terjadi gempa susulan, BBMKG Wilayah II menjelaskan gempa susulan yang kekuatannya relatif kecil bisa terjadi karena batuan yang patah saat terjadi gempa besar butuh waktu untuk melepaskan semua energinya untuk kembali mencapai keadaan setimbang.

“Kalau udah enggak ada gempa susulan, artinya keadaan sudah setimbang dan di lokasi tersebut kembali mengumpulkan energinya dari gaya-gaya pergerakan lempeng yang diterimanya,” terangnya.

BMKG juga mengimbau kepada masyarakat ketika terjadi gempa bumi dan sedang berada di dalam bangunan untuk segera bersembunyi di bawah meja atau mencari tempat yang paling aman dari reruntuhan dan goncangan.

“Jika berada di dalam bangunan, lari ke luar apabila masih dapat dilakukan. Jika berada di luar bangunan, hindari bangunan yang ada di sekitar seperti gedung, tiang listrik, pohon dan sebagainya. Perhatikan juga tempat berpijak hindari apabila terjadi retakan tanah. Jika sedang mengemudi, tepikan kendaraan dan keluarlah dari kendaraan,” imbau BMKG. (Nin/Red)