Beranda Sosial dan Budaya Ini Alasan Ananda Sukarlan Tertarik Garap Opera Saidja – Adinda

Ini Alasan Ananda Sukarlan Tertarik Garap Opera Saidja – Adinda

Ananda Sukarlan. (Foto : Tribunnews.com)

 

SERANG – Pianis Ananda Sukarlan akan menampilkan opera Saidja – Adinda pada Festival Seni Multatuli (FSM), di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, pada 8 September mendatang. Ia antusias saat panitia memintanya untuk menggarap kisah yang diangkat dari karya Multatuli (nama pena Douwes Dekker) tersebut.

“Sejak saya kuliah musik di Belanda awal 1990, saya memiliki keinginan utk membuat musik tentang / berdasarkan karya dari Multatuli (Douwes Dekker). Apalagi museum Multatuli itu (yang sangat dekat dgn Anne Frank House di Amsterdam) sangat inspiratif buat saya sebagai orang Indonesia. Itu sebabnya sewaktu Museum Multatuli di Rangkasbitung meminta saya untuk membuat sesuatu dari karyanya, saya langsung mengiyakan,” tulis Ananda Sukarlan dalam blog pribadinya bloganandasukarlan.com.

Ananda Sukarlan mengaku hanya diberi beberapa minggu untuk menulisnya, danĀ  juga harus mengirimkannya kepada para musikusnya dengan cukup tenggang waktu untuk mereka mempelajarinya.

“Saidjah & Adinda selalu ada di benak saya, apalagi saya sudah sering bekerja dengan 2 penyanyi yang kebetulan keduanya lahir dan tinggal di Surabaya, soprano Mariska Setiawan dan tenor Widhawan Aryo Pradhita. Semesta tiba-tiba mendukung semuanya!” ujarnya.

Pada pementasannya nanti, Ananda Sukarlan akan dua adegan saja , yaitu dialog Saidjah dan Adinda sebelum Saidjah meninggalkan kampung halaman, dan saat kembalinya Saidjah tapi menemukan Adinda sedang sekarat tertusuk oleh tentara Belanda.

Selain ituĀ  juga mengambil adegan awal, saat Saidjah masih sangat muda dengan ayahnya, kemudian ayahnya ditangkap Belanda. Tapi adegan ini direpresentasikan dengan para penari, yang koreografinya dipercayakan kepada Chendra Panatan.

“Semua cuplikan ini akan menjadi bagian dari opera utuh yang semoga dapat direalisasikan di tahun 2020, untuk merayakan 200 tahun Multatuli,” ujarnya. (ink/red)