
SERANG — Inflasi Kabupaten Lebak dan Pandeglang menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Banten. Pada Agustus 2026, inflasi Lebak mencapai 4 persen, sedangkan Pandeglang 3,94 persen. Keduanya melampaui batas atas sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 persen.
Asisten Daerah II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Banten, Budi Santoso mengatakan, inflasi Banten secara umum masih terkendali. Inflasi Banten pada Agustus 2026 tercatat 2,95 persen, masih dalam sasaran nasional 2,5 persen plus-minus 1 persen.
“Untuk inflasi, kondisi Banten saat ini masih tergolong aman karena berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen,” kata Budi, Selasa (8/9/2026).
Namun, angka Lebak dan Pandeglang jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi Banten. Kedua kabupaten itu mencatat inflasi tertinggi di antara lima wilayah yang menjadi sampel penghitungan inflasi Banten.
“Kalau secara umum masih amanlah. Hanya saja yang tinggi itu ada dua, yakni inflasi di Kabupaten Lebak yang mencapai 4 persen, dan Kabupaten Pandeglang sebesar 3,94 persen. Ini bahkan telah melampaui batas maksimal 3,5 persen,” jelasnya.
Pemprov Banten akan turun ke Lebak dan Pandeglang untuk mencari sumber persoalan. Pemerintah provinsi juga akan berkoordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) masing-masing kabupaten untuk menentukan langkah intervensi.
“Nah, ini tentu akan kita tindak lanjuti, nanti kita akan sampaikan ke Kabupaten Lebak dan Pandeglang berkoordinasi dengan TPID di sana, ada masalah apa ini,” ujarnya.
Budi menyebut, kelompok makanan dan minuman menjadi salah satu pendorong inflasi. Daging ayam ras menyumbang 0,23 persen, minyak goreng 0,19 persen, dan beras 0,10 persen.
“Penyumbang inflasi ini masih dari sektor makan-minum, ya. Terutama daging ayam ras itu menyumbang 0,23, kemudian minyak goreng 0,19, dan beras 0,10 persen menyumbangnya,” katanya.
Pemprov Banten akan menelusuri penyebab kenaikan harga komoditas tersebut, terutama jika kenaikan terjadi di Lebak dan Pandeglang.
“Kalau memang harga beras tinggi, harga ayam tinggi, masalahnya apa di sana, nanti akan kita cari solusinya bersama,” tegas Budi.
Di sisi lain, Budi menyebut pertumbuhan ekonomi Banten masih berada di atas rata-rata nasional. Pertumbuhan ekonomi Banten berada di kisaran 5,40 persen, sedangkan nasional sekitar 5,31 persen.
“Tentu hal ini akan terus kita jaga dan kita tingkatkan melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia, BPS, dan Kadin, sebagai upaya untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi Banten,” katanya.
Gubernur Banten, Andra Soni menegaskan, pengendalian inflasi tidak sekadar mengejar angka statistik. Stabilitas harga berkaitan langsung dengan daya beli dan konsumsi masyarakat.
“Menjaga inflasi ini penting sekali karena ini bukan sekadar angka statistik, tetapi ini angka untuk menjaga daya beli masyarakat, menjaga konsumsi masyarakat, karena konsumsi masyarakat merupakan bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi,” kata Andra.
Andra memastikan inflasi Banten secara umum masih terkendali meski sejumlah komoditas mendorong inflasi maupun deflasi.
“Posisi inflasi kita masih terjaga. Ada beberapa memang yang mempengaruhi inflasi kita dan juga ada beberapa yang mempengaruhi deflasi. Tapi secara umum, inflasi kita masih terjaga,” ujarnya.
Pemprov Banten juga memperketat pemantauan produksi pertanian menjelang musim tanam ketiga. Pemerintah ingin memastikan musim kering tidak mengganggu ketersediaan air dan produksi pangan.
Andra mengatakan pemerintah pusat mengalokasikan anggaran perbaikan jaringan irigasi pada 2025-2026. Pada 2025, pemerintah membangun 81 kilometer jaringan irigasi, termasuk melalui dukungan APBD.
Perbaikan itu mendorong indeks irigasi Banten dari 52 menjadi sekitar 62. Andra berharap peningkatan tersebut menjaga pasokan air untuk pertanian selama musim kering sekaligus menopang target panen.
“Indeks irigasi kita naik dari 52 menjadi 62 sekian dan itu artinya harapan kita semoga dalam posisi musim panas seperti sekarang ketersediaan air tetap tercukupi. Dan kita berharap mudah-mudahan target panen kita terpenuhi,” ujar Andra.
Penulis : Audindra Kusuma
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd