Beranda Kesehatan Imbas Sebaran Abu Vulkanik GAK, Kasus ISPA di Kabupaten Serang Naik Dua...

Imbas Sebaran Abu Vulkanik GAK, Kasus ISPA di Kabupaten Serang Naik Dua Kali Lipat

Kepala Dinkes Kabupaten Serang Efrizal. (Iyus/bantennews)

KAB. SERANG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang mencatat lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) setelah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) menyebar ke sejumlah wilayah.

Kepala Dinkes Kabupaten Serang, Efrizal mengatakan, sebelum abu vulkanik muncul pada 6 September 2026, kasus ISPA di seluruh Kabupaten Serang berada di kisaran 500 kasus. Sehari kemudian, angka tersebut melonjak hingga sekitar 1.000 kasus.

“Di tanggal 6 itu sebelumnya sekitar angka 500-an seluruh kabupaten untuk ISPA. Di tanggal 7 meningkat menjadi 1.000, berarti ada peningkatan yang signifikan,” kata Efrizal, Kamis (10/9/2026).

Memasuki 8 September, lanjut Efrizal, jumlah kasus mulai turun ke kisaran 900 kasus. Namun, angka tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum paparan abu vulkanik.

Efrizal melihat adanya keterkaitan antara paparan abu vulkanik dengan peningkatan kasus ISPA. Dinkes kini terus memperbarui data untuk melihat perkembangan kasus sekaligus dampak kesehatan di lapangan.

“Kalau melihat data, mudah-mudahan memang ada signifikansi dengan bergeraknya semua stakeholder yang berhubungan,” ujarnya.

Dinkes Kabupaten Serang juga memperkuat kampanye penggunaan masker, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan.

Petugas puskesmas terus mengingatkan masyarakat agar melindungi saluran pernapasan ketika berada di tengah paparan abu.

“Yang terbaik adalah pakai masker. Kalau di luar seperti ini penting menggunakan masker karena terpapar udara,” katanya.

Dinkes juga mendistribusikan masker ke wilayah Kabupaten Serang. Khusus Kecamatan Cinangka dan Anyer, Dinkes menyalurkan 25 boks masker untuk setiap desa.

Selain membagikan masker, seluruh puskesmas memperkuat edukasi kepada masyarakat. Efrizal juga meminta warga yang mengalami gangguan kesehatan segera mendatangi puskesmas.

Selama kondisi GAK masih berstatus Siaga, Dinkes meminta seluruh kepala puskesmas tetap siaga. Puskesmas juga membuka layanan 24 jam untuk mengantisipasi lonjakan pasien.

Baca Juga :  Kontak dengan Jemaah Tabligh Bangladesh, Tiga Santri Banten Positif Covid-19

Efrizal menyebut, penurunan kasus pada 8 September menjadi sinyal positif. Namun, jumlah kasus masih berada di atas kondisi normal sebelum abu vulkanik menyebar.

Ia juga menyinggung hasil pemantauan kualitas udara dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Menurutnya, hasil pemantauan kualitas udara belum menunjukkan perubahan signifikan dan masih berada dalam ambang normal.

Namun, Efrizal mengingatkan hasil pemantauan kualitas udara sangat bergantung pada arah angin. Ketika angin membawa abu ke wilayah tertentu, masyarakat di lokasi tersebut berpotensi lebih banyak terpapar.

“Kalau di masyarakat anginnya ke sana, ya dapat debunya. Tapi kalau lihat hasil LH, ambangnya masih dalam batas normal,” ujarnya.

Meski kasus ISPA mulai turun, Efrizal menegaskan, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan sebelum abu vulkanik muncul.

“Karena itu, kami tetap meminta masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan pernapasan,” tegasnya.

Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah