Beranda Opini Hikmah Dibalik Zona Merah

Hikmah Dibalik Zona Merah

Siswa mengenakan masker saat di sekolah - foto istimewa tempo.co

Oleh: Sherly Agustina, M.Ag, Owner @tilah Bakery Cilegon dan Kontributor Media

 

Allah Swt. berfirman: “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah [2]: 269).





 

Kasus Covid-19 Terus Meningkat

 

Sudah 10 bulan pandemi di negeri ini, kasus pun terus melonjak belum ada tanda-tanda menurun. Bahkan 3 hari berturut-turut kasus positif Covid-19 memecahkan rekor, 12.818 orang (15/2), 11.557 orang  (14/1), dan  11.278 orang (13/1). Data ini berdasar data harian yang dihimpun Satgas Covid-19. Total kasus di Indonesia berjumlah 882.418 (CNN Indonesia, 15/1/21).

 

Jumlah ini total dari seluruh kota yang  ada di Indonesia, tak terkecuali Banten. Di Banten pun ada penambahan kasus, hingga akhirnya beberapa kota di Banten kembali ke zona merah. Satgas Covid-19 Provinsi Banten menetapkan Kota Cilegon dan Kabupaten Serang menjadi zona merah. Penambahan kasus di Provinsi Banten yaitu 193 pasien, jadi total kasus di Provinsi Banten 21.620 orang. Berdasarkan data yang disampaikan oleh Jubir Satgas Ati Pramudji Hastuti (detikNews, 11/1/21).

 

Pandemi ini masih menjadi PR bersama terutama pemerintah karena yang berwenang mengeluarkan kebijakan terkait hal ini adalah pemerintah. Namun, dalam pelaksanaannya dibutuhkan kerja sama semua pihak termasuk rakyat. Masih banyak yang tidak disiplin terhadap protokol kesehatan, bahkan menganggap sepele terhadap virus ini. Padahal, di kalangan artis pun banyak yang positif Covid-19 dan mereka berjuang untuk bisa sembuh.

 

Jangan pernah menganggap sepele, kalaupun tak mau pusing memikirkan orang lain. Paling tidak, jaga kesehatan diri sendiri sehingga tak mudah terkena virus dan tidak menularkan pada orang lain. Bagi yang memiliki rezeki lebih, mungkin bisa isolasi mandiri, bayar swab sendiri, membeli obat, vitamin, doping, dan lain-lain sendiri.

 

Namun, bagaimana dengan yang diuji kekurangan rezeki, sementara rumah sakit full. Nakes pun sudah kewalahan menangani kasus ini sejak Maret 2020. Bahkan, kematian Nakes di negeri ini tertinggi se Asia, per Desember 2020 sudah lebih dari 500 Nakes gugur (Kompas.com, 29/12/20).

 

Beban jadi tambah berat, karena Nakes adalah pahlawan di garda terdepan dan benteng terakhir pertahanan melawan Covid-19 di negeri ini. Jika para ahli di bidang medis  dan penanganan Covid-19 semakin berkurang, lalu siapa yang akan menangani pasien covid-19? Oleh karena itu, mari semua pihak bekerja sama dalam mitigasi Covid-19 setidaknya kasus bertahap bisa turun. Lebih dari itu, pandemi ini segera berakhir.

 

Hikmah Di Balik Zona Merah

 

Tulisan ini mencoba mengambil hikmah di balik zona merah yang terjadi, terutama di wilayah Banten. Di antara hikmah tersebut:

 

Pertama, manusia sadar begitu lemah dan terbatas. Diuji oleh makhluk mungil bernama Covid-19, membuat kehidupan berubah total. Mulai dari ekonomi, keluarga, masyarakat dan negara. Di bidang ekonomi krisis bahkan resesi terjadi di dunia,  PHK dan pengangguran terjadi di mana-mana. Di bidang keluarga, perceraian dan KDRT meningkat akibat faktor ekonomi.

 

Kedua, sadar bahwa kesehatan itu mahal harganya dan sangat penting dalam kehidupan. Ketika terkena virus, harus tes swab  dengan biaya tak sedikit. Hasil positif mesti dirawat atau isolasi mandiri dengan doping vitamin, dan lain lain yang tak sedikit. Isolasi mandiri 14 hari. Lalu, tes lagi jika masih positif maka masih isolasi mandiri.

 

Kadang harus berpisah dengan istri dan anak-anak bagi yang sudah berkeluarga. Belum aspek psikis yang cukup menggangu. Ini bukan hal mudah, karena di luar kebiasaan sehari-hari maka harus dilewati.

Ketiga, sadar butuh pola hidup dan makan yang sehat. Islam sudah memerintahkan umatnya untuk menjaga kebersihan bahkan kebersihan sebagian dari iman. Membiasakan mencuci tangan jika hendak memakan sesuatu atau selesai melakukan sesuatu. Pakaian dan apapun yang dipakai diupayakan bersih dari kuman dan najis.

 

Pola hidup bersih dalam Islam jika diamalkan dengan baik akan membawa pada kehidupan yang sehat. Hal ini pun telah dicontohkan oleh baginda Rasul dan para sahabat. Wudhu, mandi adalah bagian dari cara membersihkan tubuh dari kotoran dan najis.

 

Keempat, preventif lebih utama dari kuratif. Dengan menjaga kebersihan, mengikuti pola makan yang baik dan hidup  sehat  akan membuat kehidupan sehat. Preventif ini lebih utama, karena jika sudah sakit akan lebih sulit pemulihannya (kuratif). Bisa dilihat dari kasus Covid-19 saat ini, pengobatan atau kuratif yang dilakukan jauh lebih sulit. Apalagi penemuan vaksin atau anti-virus ini belum benar-benar sempurna.

 

Berbagai hal sudah dilakukan, namun belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Vaksin yang ada baru trail and error, rakyat berharap vaksin yang ada bisa membantu mengurangi kasus Covid-19.  Hendaknya ini bisa dijadikan pelajaran yang berharga ke depannya.

 

Kelima, kebersamaan dengan ananda jauh lebih banyak, terutama bagi orang tua yang tidak sibuk berkerja. Bahkan, bisa membersamai daring anak di sela-sela waktu mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya. Tahu perkembangan anak dengan detil, misal hafalan tahu cara menghafal anak, bisa hafal ayat per ayat, surat per surat. Satu sisi harus disyukuri, karena jika tidak daring mungkin tak akan tahu detil perkembangan belajar anak

 

Tak merasakan langsung sulitnya seperti apa mendidik dan mengajar anak. Jadi tahu pengorbanan para guru selama ini seperti apa di sekolah. Kebersamaan yang harus disyukuri, karena jika anak sudah besar mungkin tak akan bersama lagi dengan orang tua. Anak wanita ikut dengan suaminya, anak laki-laki punya tanggung jawab lain selain memperhatikan kedua orang tuanya terutama ibu.

 

 

Semoga wabah ini segera berlalu, kondisi kembali pulih dan membaik dalam semua bidang. Krisis dan resesi segera bisa ditangani, rakyat yang kesulitan bisa teratasi dan  dilayani dengan baik oleh pemerintah. Manusia sadar bahwa bisa jadi wabah ini teguran dari Allah, agar mau menerapkan aturan Allah yang membawa kebaikan di dunia dan di akhirat.

 

Firman-Nya: “Apakah hukum jahiliyah yang kalian kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (TQS. Al Maidah: 50).

 

Allahu A’lam bi ash Shawab.

(***)