LEBAK — Pagi baru saja menyapa Kampung Cikulur, Desa Muncangkopong, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten. Di sudut perkampungan itu, berdiri sebuah gubuk kecil berukuran sekitar 2×2 meter. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang mulai lapuk, sementara lantainya pun seadanya. Dari luar, bangunan itu tampak rapuh, nyaris tak layak disebut tempat tinggal.
Namun di situlah Saminah (51) menjalani hari-harinya. Perempuan paruh baya itu hidup dalam keterbatasan ekonomi, sembari merawat sang suami yang telah lama menderita stroke. Di dalam ruang sempit itu, Saminah membagi perannya sebagai pencari nafkah sekaligus perawat bagi orang yang dicintainya.
Di bawah gubuk yang ditinggikan itu, terdapat kolong yang dimanfaatkan sebagai kandang kambing milik tetangga. Hewan-hewan tersebut bukan miliknya, melainkan titipan yang ia rawat demi tambahan penghasilan.
“Gak ada pilihan lain lagi,” ucap Saminah lirih saat ditemui, Minggu (19/4/2026). “Di kolong gubuk dijadikan tempat kambing milik tetangga yang saya rawat.”
Setiap hari, ia bekerja serabutan. Apa pun yang bisa dikerjakan, akan ia lakukan. Dari hasil itu, ia hanya mampu membawa pulang sekitar Rp30 ribu per hari—jumlah yang harus cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus biaya perawatan suaminya.
“Sehari dapat Rp30 ribu. Dengan uang itu dicukup-cukupi saja,” katanya.
Di tengah keterbatasan tersebut, Saminah masih memikul tanggung jawab sebagai seorang ibu. Ia memiliki tiga orang anak. Dua di antaranya saat ini masih menempuh pendidikan di pondok pesantren, sementara satu anak lainnya bekerja di Jakarta. Untuk biaya pendidikan anak-anaknya yang mondok, ia bersyukur masih mendapat bantuan dari pihak pesantren.
Namun, beban hidupnya semakin terasa berat ketika bantuan sosial yang pernah ia terima kini tak lagi mengalir.
“Dulu ada bantuan, sekarang sudah enggak. Katanya datanya diblokir,” ungkapnya dengan nada pasrah.
Kondisi Saminah dan suaminya tak luput dari perhatian warga sekitar. Yuyu (32), salah seorang tetangga, mengaku prihatin melihat kehidupan pasangan tersebut yang serba kekurangan.
“Melihat kondisinya, kami sebagai tetangga tentu merasa sedih. Semoga ada perhatian dari pemerintah atau dermawan untuk membantu memperbaiki tempat tinggal mereka dan meringankan beban hidupnya,” ujar Yuyu.
Di balik sunyi gubuk reyot itu, Saminah terus bertahan. Ia tak hanya melawan kerasnya hidup, tetapi juga menjaga harapan—bahwa suatu hari akan ada uluran tangan yang datang, memberi sedikit kehangatan di tengah dinginnya realitas yang ia jalani.
Penulis: Sandi Sudrajat
Editor: Usman Temposo
