SERANG– Dalam dua dekade kariernya, Heru Anwari tak lagi menghitung berapa kompetisi dan event yang pernah ia ikuti. Dari Pasar Rau Kota Serang, ia melompat hingga ke panggung New Victory Theater, New York, Amerika Serikat. Putaran ban belakang sepeda BMX, mengantarnya jadi penjelajah.
“Kalau di Amerika sekarang udah malam. Beda waktunya mundur 12 jam,” kata Heru yang dua tahun terakhir rutin hilir mudik ke negeri Paman Sam, kepada BantenNews.co.id pada Sabtu sore (10/1/2026).
Semuanya berawal dari tayangan MTV yang trending di era awal tahun 2000-an. Heru yang kala itu duduk di kelas 4 SD, terpikat dengan tayangan soal gaya hidup anak muda Amerika seperti musik hip hop, graffiti, skateboard, dan sepeda kecil yang bisa melompat-lompat.
Antusiasme pada sepeda kecil yang melompat-lompat itu lah yang membawa Heru menyelam lebih jauh ke dunia BMX. Saat itu, YouTube belum ada dan internet masih asing, dengan jangkauan yang jauh terbatas dibandingkan sekarang.
Keinginan yang kuat untuk menguasai berbagai trik kemudian mengantarnya mengenal banyak komunitas BMX di Kota Serang. Salah satu yang terbesar saat itu adalah Bicycle Serang Banten (BSB).
“Trik yang basic pertama kali bisa itu bunny hop, trik mengangkat ban depan belakang melompat ke udara bersamaan,” kenang Heru.
Setelah mengenal banyak komunitas BMX di Kota Serang, Heru akhirnya bergabung dengan Catrol Community Cycle (C3) yang berbasis di Komplek Ciputat Indah Serang.
Ketika sedang berlatih, ia sempat terjatuh hingga menyebabkan tulang bahunya patah. Heru yang saat itu duduk di kelas 2 SMP, harus menepi selama tiga bulan. Masa pemulihan itu ia jalani dengan perasaan murung karena harus berjarak dari sepeda yang selama ini menjadi partner ‘menarinya’.
Setelah pulih, tubuhnya tak lagi sebebas dulu. Dari keterbatasan itu, Heru mengambil keputusan penting: menekuni BMX flatland. Pilihan yang kelak menjadi jalur spesialisasi dan masih ia tekuni hingga hari ini.
Sambil meminum es teh manis, pria berambut keriting itu juga bercerita bagaimana BMX lahir di Amerika Serikat pada era 1970-an, menyebar ke Asia Tenggara pada 1980-an, hingga berkembang pesat di Indonesia. Ia ingat era old school, mid school, hingga modern. Termasuk perubahan bentuk sepeda, tekanan ban, dan gaya trik.
Garisan takdir membawanya mengikuti kejuaraan dunia pertama pada 2011 di ajang Groud Force Singapore Round 3 dengan pencapaian di peringkat 24 Pro Class. Dari sana, Heru pelan-pelan menjadi seorang rider BMX berbakat dengan sampingan menjadi seorang penjelajah.
Hampir semua benua di dunia kecuali Antartika dan Afrika, sudah pernah ia jajaki untuk ikut kompetisi atau event BMX. Flatdev 2012 Malaca Malaysia, Final Flatark Kobe Jepang 2014, Down UnderGround Melbourne Flatland Championship 2017-2019, hingga Fise Montpellier France BMX Freestyle 2018.
Berbagai brand ternama juga pernah melekat di tubuh Heru. Sebut saja Acer Indonesia, Intel Indonesia, Action Cam Sony Indonesia, Piero Shoes, Wimcycle, Adrenaline Counter, Counterpain, Dickie Indoneisa hingga Mugabe Wear.
Pada 2019 di saat pandemi Covid-19, Heru bahkan sempat tinggal di Melbourne, Australia untuk semakin mengasah kemampuannya. Kota itu bahkan ia sebut sebagai rumah keduanya karena banyak hal yang berkesan.
“Sempat kerja part time di pabrik tempe punyanya orang Yogyakarta. Selain itu kerja di kebun strawberry sama anggur kalau lagi musimnya,” kata Heru.
Berkeliling di Negeri Paman Sam
Sejak 2021, berawal dari Australia dan New Zealand, Heru kemudian dikontrak perusahaan bernama Onyx Production sebagai performer di event Urban Circus. Dari sana ia rutin tampil di berbagai negara bagian Amerika Serikat seperti Alaska, Florida, Indiana, hingga New York. Ia bahkan menjadi ‘guru’ BMX bagi anak-anak di Amerika.
“Jadi anak-anak sekolah (sekitar) 2.000 anak pada nonton. Nanti ada tanya-jawab kaya berapa lama latihannya, berapa puluh jam setiap hari. Mereka sangat tertarik. Dan itu memang programnya sih disana. Jadi sampai (saya) ngajar anak-anak juga ya,” ungkap Heru.
Baru-baru ini, ia juga ditawari untuk menjadi performer di sebuah kapal pesiar. Tawaran itu masih ia pertimbangkan karena jika diterima, ia harus akan berada di laut selama berbulan-bulan.
“Kalau enggak diambil (padahal) ini cerita yang baru. Untuk jadi tulisan juga di atas laut, kayak apa yang bakal terjadi bawa sepeda di atas laut. Bukan masalah finansial sih. Challenge-nya menarik, tapi belum tau akan saya ambil atau enggak,” ucapnya.
Setelah dua dekade berkarir sebagai rider BMX Flatland, kini Heru juga menyibukan diri dengan membaca buku-buku bergenre religi, bacaan yang menurutnya membantu menata batin setelah bertahun-tahun hidup dalam dinamika kompetisi dan perjalanan.
Dari kebiasaan membaca itu kemudian berlanjut pada rutinitas menulis. Ia sedang mempersiapkan sebuah buku untuk memperingati 20 tahun perjalannnya berkeliling dunia dengan ‘menari’ bersama sepeda.
Heru sempat terdiam ketika diminta menjelaskan apa arti BMX bagi dirinya. Definisi itu terasa tak kunjung rampung. Dari obrolannya dengan sejumlah rider lain, BMX kerap dimaknai sebagai keindahan, seni, bahkan jiwa.
Namun, bagi Heru, maknanya melampaui semua itu. Lamunan itu terkikis seiring ia menuntaskan seruput terakhir teh manis di gelas plastik yang seluruh esnya sudah mencair.
“Hidup saya BMX. Udah puncak, karena saya main BMX, dan saya akan main BMX terus kalau masih bisa, dan akan menyebarkan keindahan ini ke seluruh Indonesia, bahkan dunia, dari ceritanya, fotonya, gambarnya, videonya, cerita termasuk berita-berita ini, ini udah jadi satu keindahan,”
“Orang tua ridha, Allah ridha, ya sudah itu, sudah,” ujarnya berbinar kembali.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: TB Ahmad Fauzi
