PANDEGLANG – Pondok Pesantren Al-Ihsan menggelar Pekan Semarak Haul Ke-2 pendiri sekaligus muassis pesantren, KH Asmuni M Noor. Kegiatan yang berlangsung selama sepekan ini menjadi ajang mengenang perjuangan almarhum sekaligus mengajak para santri meneruskan nilai-nilai yang diwariskannya.
Ketua Panitia Haul, KH Khulaifi Lc, mengatakan bahwa haul tidak hanya dimaknai sebagai tradisi mengenang orang yang telah wafat, tetapi juga menjadi sarana menghidupkan kembali keteladanan dan ajaran KH Asmuni di tengah para santri, alumni, dan masyarakat.
“Inti haul adalah mengingat dan menyebut kebaikan orang yang telah meninggal. Harapannya, kebaikan itu menjadi amal jariyah yang terus mengalir dan bisa diteladani oleh kita yang masih hidup,” kata Khulaifi, Minggu (13/9/2026).
Menurut Khulaifi, salah satu pesan yang paling kuat ditinggalkan KH Asmuni ialah pentingnya menghormati guru. Meski tidak mampu membalas jasa guru, kata dia, setiap murid tetap memiliki kewajiban untuk terus mendoakan dan menjaga nama baik gurunya.
“Kalau belum bisa membalas jasa guru, paling tidak jangan pernah putus mendoakan beliau dan mengikuti jejak kebaikannya,” katanya.
Pekan Semarak Haul Abi digelar sejak Sabtu dan akan mencapai puncaknya pada Kamis mendatang. Berbagai kegiatan disiapkan untuk menyambut para jamaah, alumni, santri, hingga wali santri yang datang dari berbagai daerah.
Khulaifi menyebut antusiasme masyarakat pada penyelenggaraan haul tahun ini sangat tinggi. Menurut dia, rangkaian kegiatan sengaja dibuat selama beberapa hari agar menjadi ruang silaturahmi sekaligus menghidupkan semangat perjuangan KH Asmuni.
KH Asmuni M Noor meninggalkan seorang istri, Nyai Hajah Hayati, serta tujuh putra-putri. Kepemimpinan Pondok Pesantren Al-Ihsan kini diteruskan oleh keluarga, dengan putra keduanya, Ahmad Syed, memimpin pesantren.
Di mata keluarga dan para santri, KH Asmuni dikenal sebagai sosok yang sederhana, ramah, dan selalu memberi teladan melalui tindakan.
“Beliau selalu melakukan terlebih dahulu sebelum memerintahkan orang lain. Itu yang paling diingat para santri,” tutur Khulaifi.
Melalui haul ke-2 ini, keluarga besar Pondok Pesantren Al-Ihsan berharap ikatan silaturahmi antarsantri, alumni, dan masyarakat tetap terjaga serta tidak terputus meski sang guru telah wafat.
“Jangan sampai setelah guru kita meninggal justru kita terpecah. Semoga silaturahmi terus terjalin melalui doa, sedekah, dan kebersamaan,” pungkasnya.
Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor: Wahyudin
